PLN Resmi Terlibat dalam Perdagangan Karbon Luar Negeri untuk Dukung Mitigasi Perubahan Iklim

Kompas.com - 03/02/2025, 13:14 WIB
DWN,
A P Sari

Tim Redaksi

KOMPAS.com - PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN, melalui langkah progresifnya, kini resmi ikut serta dalam perdagangan karbon luar negeri. 

Hal tersebut diumumkan oleh Executive Vice President (EVP) Transisi Energi dan Keberlanjutan PLN Kamia Handayani dalam acara ESG Sustainability Forum 2025 yang diselenggarakan oleh CNBC Indonesia, Jumat (31/1/2025).

Pada kesempatan tersebut,  Kamia mengungkapkan bahwa pada perdagangan karbon internasional pertama ini, PLN telah menyiapkan 1,78 juta ton carbon dioxide equivalents (CO2e) Sertifikat Pengurangan Emisi (SPE) yang akan dijual ke pembeli luar negeri. 

Sertifikat tersebut telah mendapat otorisasi dari pemerintah Indonesia untuk menghindari risiko double counting pada unit karbon yang diperdagangkan.

Baca juga: [POPULER MONEY] Pembongkaran Pagar Laut Tangerang Berlanjut meski Libur Isra Miraj | Jadwal Libur Bursa Efek

Perdagangan karbon ini dimulai di bursa domestik pada 2023 dan baru dibuka untuk pasar internasional pada 2025. Untuk permintaan PLN, sebanyak 1,7 juta ton CO2e Sertifikat Pengurangan Emisi telah diotorisasi oleh pemerintah untuk dijual ke luar negeri,” jelas Kamia ujarnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (3/2/2025).

Untuk diketahui, PLN memulai langkah tersebut pada Senin (20/1/2025), setelah sebelumnya melakukan perdagangan karbon terbatas di pasar domestik sejak September 2023.

Kamia juga menambahkan bahwa dibukanya perdagangan karbon luar negeri ini merupakan langkah positif dalam mengimplementasikan Artikel 6 Perjanjian Paris, sesuai hasil Conference of the Parties (COP29) yang diselenggarakan di Azerbaijan pada November 2024.

Baca juga: Kesepakatan Akhir COP29 Timbulkan Banyak Kekecewaan

"Pertama-tama, kami ingin menyampaikan apresiasi kepada pemerintah, seperti yang disampaikan oleh Pak Hashim Djojohadikusumo (Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi), yang telah mengadakan rapat khusus. Sehingga, akhirnya pemerintah sepakat untuk membuka pasar karbon luar negeri," tuturnya. 

Langkah tersebut, lanjut Kamia, merupakan hal yang positif untuk meningkatkan permintaan dan mendorong investasi hijau di dalam negeri.

PLN dorong pengembangan investasi hijau 

Suasana diskusi panel dengan tema Peran Pembiayaan dalam Mendorong ESG dan Energi Berkelanjutan pada acara CNBC Indonesia ESG Sustainability Forum 2025, Jumat (31/1) di Jakarta.
DOK. PLN Suasana diskusi panel dengan tema Peran Pembiayaan dalam Mendorong ESG dan Energi Berkelanjutan pada acara CNBC Indonesia ESG Sustainability Forum 2025, Jumat (31/1) di Jakarta.

Sementara itu, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menegaskan bahwa PLN bersama dengan pemerintah terus mendorong pengembangan investasi hijau yang berkontribusi langsung pada pelestarian lingkungan. 

Baca juga: Menag: Al-Quran Larang Eksploitasi Alam, Pelestarian Lingkungan Jadi Keharusan

Salah satu inisiatif penting dalam upaya tersebut adalah perdagangan karbon, yang menjadi alternatif strategis dalam mitigasi perubahan iklim.

Perubahan iklim adalah persoalan global, yang memerlukan solusi global. Peluncuran perdagangan karbon luar negeri ini adalah langkah nyata PLN dan pemerintah Indonesia dalam mengatasi dampak perubahan iklim yang semakin mendesak,” ujar Darmawan.

Ia menjelaskan bahwa PLN tidak hanya melakukan offset emisi melalui bursa karbon, tetapi juga melakukan perdagangan emisi dan offset emisi melalui mekanisme perdagangan langsung. 

Baca juga: YKAN: Emisi CO2 Naik 38 Persen jika Lahan Gambut Dikonversi ke Sawit

Selain itu, PLN telah meluncurkan platform PLN Climate Click, yang memungkinkan aktivitas perdagangan karbon, baik emisi maupun offset emisi, yang telah dimulai sejak 2023.

“PLN siap menjadi garda terdepan dalam upaya penurunan emisi. Kami berkomitmen untuk terus mengembangkan ekosistem perdagangan karbon di Indonesia, serta berperan aktif dalam mendorong transisi menuju ekonomi hijau,” ucap Darmawan.

Apresiasi pemerintah terhadap langkah PLN

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo saat menyampaikan keynote speech pada acara CNBC Indonesia ESG Sustainability Forum 2025 di Jakarta, Jumat (31/1). Dirinya menyampaikan keputusan dibukanya perdagangan karbon luar negeri diharapkan dapat menghidupkan pasar karbon nasional melalui arus investasi asing tanpa mengurangi pencatatan di dalam negeri. Hashim juga mengapresiasi langkah progresif PT PLN (Persero) yang telah masuk dalam perdagangan karbon luar negeri.
DOK. PLN Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo saat menyampaikan keynote speech pada acara CNBC Indonesia ESG Sustainability Forum 2025 di Jakarta, Jumat (31/1). Dirinya menyampaikan keputusan dibukanya perdagangan karbon luar negeri diharapkan dapat menghidupkan pasar karbon nasional melalui arus investasi asing tanpa mengurangi pencatatan di dalam negeri. Hashim juga mengapresiasi langkah progresif PT PLN (Persero) yang telah masuk dalam perdagangan karbon luar negeri.

Sebelumnya, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, memberikan apresiasi atas langkah PLN sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang terlibat dalam perdagangan karbon internasional. 

Baca juga: Peluang Dagang Karbon Rp 184 Triliun dari Restorasi Gambut dan Rehabilitasi Mangrove

Ia menyebutkan bahwa langkah tersebut adalah bukti nyata komitmen PLN dalam memitigasi perubahan iklim sekaligus membuka peluang bagi investasi hijau di Indonesia.

"Langkah PLN ini sangat positif, signifikan untuk mendorong investor luar negeri membeli carbon credit di Indonesia, yang akan memasukkan likuiditas ke pasar domestik kita," kata Hashim. 

Ia menjelaskan bahwa keputusan untuk membuka perdagangan karbon luar negeri tersebut merupakan hasil keputusan tim yang ia pimpin, bersama Menteri Lingkungan Hidup (LH), Menteri Kehutanan, dan Dewan Ekonomi Nasional (DEN). 

Baca juga: Menteri Kehutanan Diminta Tindak Perambahan Hutan di Bengkulu

Mereka merekomendasikan kepada Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto agar pelaku pasar luar negeri bisa berpartisipasi dalam bursa karbon domestik Indonesia.

“Kita harus mengakui bahwa Indonesia memiliki banyak kelebihan, terutama di bidang kehutanan dan solusi berbasis alam (nature-based solutions), yang selama ini belum bisa dimanfaatkan oleh pelaku pasar domestik karena terbatasnya akses,” jelas Hashim.

Dia menambahkan, dengan dibukanya perdagangan karbon luar negeri, arus investasi asing dapat memberikan dorongan bagi pasar karbon nasional tanpa mengurangi pencatatan yang ada di dalam negeri.

Baca juga: Syarat IPK dan TOEFL-IELTS untuk Daftar Beasiswa LPDP S2 Dalam Negeri

“Ini adalah langkah yang saya umumkan hari ini, yang berdasarkan rapat yang saya pimpin kemarin. Dengan membuka pasar ini, likuiditas yang sekarang sudah siap di luar negeri bisa masuk dan menghidupkan pasar karbon domestik, yaitu IDXCarbon,” imbuh Hashim.

Terkini Lainnya
Cukup 20 Menit, Sinergi PLN, MEBI, dan Huawei Percepat Pengisian Mobil Listrik

Cukup 20 Menit, Sinergi PLN, MEBI, dan Huawei Percepat Pengisian Mobil Listrik

PLN
Sinergi PLN dan Kementerian ESDM Hadirkan Listrik bagi 750 Keluarga Prasejahtera di Bengkulu

Sinergi PLN dan Kementerian ESDM Hadirkan Listrik bagi 750 Keluarga Prasejahtera di Bengkulu

PLN
Lebih dari 390.000 Pelaku Usaha Agrikultur dan Kelautan Adopsi Teknologi Listrik PLN

Lebih dari 390.000 Pelaku Usaha Agrikultur dan Kelautan Adopsi Teknologi Listrik PLN

PLN
PLN Mobile Perkuat Ekosistem EV Berbasis Green Energy, dari Home Charging hingga SPKLU

PLN Mobile Perkuat Ekosistem EV Berbasis Green Energy, dari Home Charging hingga SPKLU

PLN
PLN Berikan 3 Tips Aman dari Bahaya Listrik saat Cuaca Ekstrem

PLN Berikan 3 Tips Aman dari Bahaya Listrik saat Cuaca Ekstrem

PLN
ICONNET Beri Diskon hingga 75 Persen bagi Pelanggan Terdampak Bencana di Sumatera

ICONNET Beri Diskon hingga 75 Persen bagi Pelanggan Terdampak Bencana di Sumatera

PLN
Penjualan REC PLN Tumbuh 19,65 Persen, Industri Berat dan Manufaktur Besar Jadi Pendorong Utama

Penjualan REC PLN Tumbuh 19,65 Persen, Industri Berat dan Manufaktur Besar Jadi Pendorong Utama

PLN
Rumah Baru Anti Gelap, Begini Cara Praktis Pasang Listrik via PLN Mobile

Rumah Baru Anti Gelap, Begini Cara Praktis Pasang Listrik via PLN Mobile

PLN
Bikin Hajatan Tanpa Genset, Begini Cara Pesan Listrik Sementara via PLN Mobile

Bikin Hajatan Tanpa Genset, Begini Cara Pesan Listrik Sementara via PLN Mobile

PLN
PLN Percepat Pemulihan Listrik di Aceh, 6.432 Desa Kembali Menyala

PLN Percepat Pemulihan Listrik di Aceh, 6.432 Desa Kembali Menyala

PLN
PLTA Sipansihaporas, Bukti Komitmen PLN Minimalkan Risiko Banjir di Tapanuli Tengah

PLTA Sipansihaporas, Bukti Komitmen PLN Minimalkan Risiko Banjir di Tapanuli Tengah

PLN
Terangi Aceh Pascabencana, PLN Distribusikan 1.000 Genset ke Wilayah Terparah

Terangi Aceh Pascabencana, PLN Distribusikan 1.000 Genset ke Wilayah Terparah

PLN
Tahun Baru Energi Baru, PLN Tebar Diskon 50 Persen untuk Tambah Daya lewat Aplikasi PLN Mobile

Tahun Baru Energi Baru, PLN Tebar Diskon 50 Persen untuk Tambah Daya lewat Aplikasi PLN Mobile

PLN
PLN Siagakan 4.648 Unit SPKLU Selama Nataru, Konsumsi Listrik EV Meningkat 479 Persen

PLN Siagakan 4.648 Unit SPKLU Selama Nataru, Konsumsi Listrik EV Meningkat 479 Persen

PLN
Dukung Percepatan Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang, PLN Siapkan Infrastruktur Kelistrikan

Dukung Percepatan Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang, PLN Siapkan Infrastruktur Kelistrikan

PLN
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com