Di CEO Connect 2025, PLN Soroti Pentingnya Pembangunan Adaptif untuk Kebutuhan Energi Masa Depan

Kompas.com - 17/10/2025, 19:29 WIB
Tsabita Naja,
Mikhael Gewati

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan (EBT) PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN, Suroso Isnandar menyoroti pentingnya pembangunan yang adaptif terhadap kebutuhan energi masa depan.

“PT PLN saat ini bukan hanya penyedia listrik, tetapi motor penggerak ekosistem energi hijau nasional,” ucapnya dalam keterangan resmi, Jumat (17/10/2025).

Hal tersebut disampaikan Suroso dalam acara CEO Connect di Bentara Budaya Art Gallery Jakarta, Kamis (16/10/2025).

Forum yang menjadi ajang pertukaran gagasan lintas sektor antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya ini merupakan bagian dari rangkaian acara 16th Kompas100 CEO Forum 2025 powered by PLN. 

Baca juga: RI Butuh Dana Rp 3.000 T untuk Bangun EBT, PLN Dorong Investasi Swasta

Suroso menyampaikan bahwa PLN telah menyiapkan peta jalan transformasi energi untuk memperkuat bauran EBT secara bertahap dalam beberapa tahun mendatang.

Langkah tersebut diwujudkan melalui pembangunan smart grid, pengembangan pembangkit tenaga surya di kawasan industri, serta sistem penyimpanan energi berbasis baterai yang dapat memperluas jangkauan pasokan hijau.

Menurut Suroso, keberhasilan transisi energi akan sangat bergantung pada kemitraan lintas sektor.

“Kita butuh ecosystem thinking, yakni kolaborasi antara pemerintah sebagai regulator, PLN sebagai integrator, dan swasta sebagai inovator. Kalau semua bergerak dengan arah yang sama, kita tidak hanya mencapai ketahanan energi, tapi juga membuka babak baru kemandirian ekonomi,” ungkapnya.

Baca juga: Tantangan Peremajaan Kilang, Saat Ketahanan Energi Jadi Taruhan

Suroso menambahkan, investasi di sektor EBT harus dipandang sebagai peluang jangka panjang, bukan beban.

Ia percaya bahwa EBT memiliki efek ganda, antara lain menumbuhkan industri baru, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

“Ketika kita membangun pembangkit surya di pelosok, itu bukan sekadar proyek energi. Itu pembangunan ekonomi lokal,” tegas Suroso.

Mengusung tema “Menata Arah Indonesia: Derap Langkah Membangun Kemandirian Ekonomi melalui Optimalisasi Energi Baru Terbarukan (EBT)”, CEO Connect menghadirkan ruang dialog untuk menyatukan gagasan dalam mewujudkan kemandirian energi nasional.

Baca juga: CEO Connect Digelar, Pertemukan Pemerintah-Swasta untuk Wujudkan Kemandirian Energi

Secara garis besar, forum diskusi ini membedah arah kebijakan dan strategi lintas sektor untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia di tengah dinamika global. 

Selain menghadirkan pembicara dari PT PLN (Persero), diskusi yang dipandu oleh wartawan Harian Kompas Aris Prasetyo ini juga menghadirkan pembicara dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Standard Chartered Indonesia, Boston Consulting Group, dan PT Pertamina (Persero)

Pada kesempatan itu, Direktur Konservasi Energi Direktorat Jenderal (Dirjen) Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Hendra Iswahyudi menegaskan bahwa transisi menuju energi bersih merupakan bagian dari upaya memperkuat kedaulatan nasional di bidang energi.

“Energi bukan semata urusan pasokan, melainkan instrumen kedaulatan. Ketika kita mampu menguasai sumber daya, teknologi, dan kebijakannya, di situlah Indonesia benar-benar mandiri,” ujarnya.

Baca juga: Antara Karbon dan Kedaulatan: Menakar Arah Transisi Energi Indonesia

Hendra mengungkapkan bahwa pemerintah tengah mempercepat kebijakan menuju swasembada energi dengan menyiapkan serangkaian instrumen fiskal dan nonfiskal.

Beberapa kebijakan yang dijalankan adalah renewable energy fund, penyederhanaan izin proyek EBT, serta kolaborasi riset dengan lembaga teknologi dalam negeri.

Hendra menambahkan, penguatan infrastruktur dan riset menjadi dua fondasi utama agar transisi ini berjalan efektif.

“Tanpa riset, kita akan terus menjadi pengguna, bukan pencipta teknologi. Karena itu, Kementerian ESDM kini mendorong kolaborasi dengan universitas dan lembaga litbang nasional untuk menciptakan inovasi berbasis kebutuhan Indonesia,” jelasnya.

Baca juga: Kementerian ESDM: Sektor Panas Bumi Serap 1.533 Tenaga Kerja Hijau

Dari perspektif lembaga keuangan internasional, CEO Standard Chartered Indonesia, Donny Donosepoetro OBE mengatakan bahwa keberhasilan Indonesia dalam menjalankan transisi energi bergantung pada konsistensi kebijakan dan kemampuan negara dalam menarik arus investasi jangka panjang.

“Sebenarnya, Indonesia memiliki potensi luar biasa di kacamata investor global, mulai dari sumber daya yang melimpah, pasar domestik yang besar, serta komitmen yang kuat untuk transisi hijau,” katanya.

Namun, Donny menilai, konsistensi kebijakan menjadi faktor paling krusial untuk mendapatkan kepercayaan dan arus investasi jangka panjang.

Menurutnya, investasi hijau bukan semata soal ketersediaan dana, tetapi juga kepastian bahwa proyek yang didanai akan memberikan dampak berkelanjutan.

Baca juga: Investasi Hijau Berpotensi Buka 7-10 Kali Lebih Banyak Lapangan Kerja

Donny menekankan, investor global saat ini juga menilai besarnya manfaat sosial, peningkatan kompetensi lokal, dan tata kelola yang kredibel.

Di sinilah peran Standard Chartered Indonesia dibutuhkan sebagai jembatan antara kebutuhan pembiayaan domestik dan ekspektasi global terhadap proyek energi bersih.

Pasalnya, Standard Chartered Indonesia telah aktif mengembangkan sejumlah instrumen, seperti green bond dan sustainability-linked financing untuk membantu proyek EBT mendapatkan pendanaan dengan biaya yang kompetitif.

Selain pembiayaan, dukungan juga diberikan melalui pendampingan teknis dan konsultasi strategis agar proyek energi Indonesia siap memenuhi standar internasional.

Donny menegaskan, Standard Chartered Indonesia ingin memastikan bahwa proyek yang lahir di Indonesia bukan hanya hijau di atas kertas, tetapi juga kuat dalam tata kelola dan berkontribusi pada ketahanan energi nasional.

Baca juga: Tantangan Peremajaan Kilang, Saat Ketahanan Energi Jadi Taruhan

Transisi energi sebagai motor pertumbuhan ekonomi baru

CEO Standard Chartered Indonesia Donny Donosepoetro OBE dan Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono dalam acara CEO Connect 2025.Dok. PLN CEO Standard Chartered Indonesia Donny Donosepoetro OBE dan Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono dalam acara CEO Connect 2025.

Masih pada diskusi yang sama, Managing Director & Senior Partner Boston Consulting Group, Lenita Tobing menekankan bahwa sektor swasta memiliki peran penting dalam mengubah transisi energi menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru.

Menurutnya, saat ini Indonesia berada di momentum yang sangat strategis. Berkat potensi sumber daya yang melimpah, seperti energi surya, panas bumi, serta rantai pasok baterai kendaraan listrik, sektor swasta memiliki ruang untuk aktif mempercepat kemandirian energi nasional.

Lenita juga menyebutkan bahwa keberhasilan transisi energi tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi, tetapi oleh model bisnis yang inklusif dan berbasis kolaborasi.

“Di banyak negara, percepatan EBT terjadi ketika pemerintah membuka ruang bagi kemitraan publik-swasta, memperkuat riset lokal, dan membangun rantai pasok yang otonom. Jika semua itu dilakukan secara simultan, Indonesia bisa menghindari ketergantungan terhadap impor teknologi,” jelasnya.

Baca juga: RI Butuh Dana Rp 3.000 T untuk Bangun EBT, PLN Dorong Investasi Swasta

Berdasarkan studi dan pengalaman global, Lenita menilai ada sejumlah langkah efektif yang dapat diimplementasikan di Indonesia untuk mempercepat pertumbuhan energi bersih.

Misalnya, memperluas proyek rooftop solar di kawasan industri, mendorong integrasi digital dalam sistem energi, serta memperkuat insentif bagi investor yang menanam modal pada riset dan manufaktur komponen lokal.

“Kalau dirancang dengan strategi yang tepat, industri energi bersih akan menjadi roda penggerak ekonomi baru Indonesia yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai tambah dan kemandirian bagi bangsa,” ucap Lenita.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono sepakat bahwa transformasi menuju energi bersih merupakan perjalanan strategis yang menuntut keseimbangan antara kebutuhan energi hari ini dan investasi masa depan.

Baca juga: Energi Bersih: Mimpi Besar atau Janji Kosong Indonesia?

Menurutnya, tantangan terbesar bagi negara berkembang seperti Indonesia adalah memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat, sembari menurunkan emisi dan memperkuat daya saing industri nasional.

Oleh karena itu, Pertamina memosisikan diri sebagai penggerak transisi dengan tetap menjaga pasokan energi konvensional agar ekonomi tetap berjalan, sambil menyiapkan portofolio baru berbasis energi terbarukan.

Lebih lanjut, Agung menekankan bahwa keberhasilan transisi tidak hanya diukur dari pengurangan emisi, tetapi juga dari kemampuan bangsa menguasai teknologi dan menciptakan lapangan kerja baru.

“Transformasi ini harus menjadi jalan menuju kedaulatan energi dan kemandirian teknologi. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna. Kita harus menjadi bagian dari pencipta solusi,” tegasnya.

Baca juga: Energi Panas Bumi Dinilai Lebih Aman dan Tak Merusak, Mampu Dorong Kedaulatan Energi

Agung menutup diskusi dengan refleksi yang menegaskan arah jangka panjang Pertamina.

Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang energi, ia menilai Pertamina mengemban mandat strategis untuk menjaga ketahanan energi hari ini dengan tetap memastikan keberlanjutan energi untuk generasi mendatang.

Artinya, transisi energi yang dijalankan Pertamina bukan semata soal efisiensi, tetapi tentang masa depan bangsa.

Sebagai awal dari rangkaian 16th Kompas100 CEO Forum 2025 powered by PLN, forum ini menegaskan bahwa transisi energi merupakan fondasi bagi transformasi ekonomi nasional, bukan sekadar perubahan sumber daya.

Baca juga: Transisi Energi Bersih, SPBU dan BBM “Hijau” Pertamina Kian Meluas

Melalui dialog konstruktif antara pemerintah, pelaku industri, lembaga keuangan, dan akademisi, energi bersih dipandang sebagai kunci untuk memperkuat daya saing, membuka peluang investasi, serta menyiapkan masa depan yang tangguh, hijau, dan berdaulat bagi Indonesia.

Informasi lebih lanjut seputar 16th Kompas100 CEO Forum 2025 powered by PLN dapat diakses melalui laman kompas100.kompas.id, akun media sosial @kompas100ceoforum, dan tagar #Kompas100CEOForum.

Terkini Lainnya
PLN Berikan 3 Tips Aman dari Bahaya Listrik saat Cuaca Ekstrem

PLN Berikan 3 Tips Aman dari Bahaya Listrik saat Cuaca Ekstrem

PLN
ICONNET Beri Diskon hingga 75 Persen bagi Pelanggan Terdampak Bencana di Sumatera

ICONNET Beri Diskon hingga 75 Persen bagi Pelanggan Terdampak Bencana di Sumatera

PLN
Penjualan REC PLN Tumbuh 19,65 Persen, Industri Berat dan Manufaktur Besar Jadi Pendorong Utama

Penjualan REC PLN Tumbuh 19,65 Persen, Industri Berat dan Manufaktur Besar Jadi Pendorong Utama

PLN
Rumah Baru Anti Gelap, Begini Cara Praktis Pasang Listrik via PLN Mobile

Rumah Baru Anti Gelap, Begini Cara Praktis Pasang Listrik via PLN Mobile

PLN
Bikin Hajatan Tanpa Genset, Begini Cara Pesan Listrik Sementara via PLN Mobile

Bikin Hajatan Tanpa Genset, Begini Cara Pesan Listrik Sementara via PLN Mobile

PLN
PLN Percepat Pemulihan Listrik di Aceh, 6.432 Desa Kembali Menyala

PLN Percepat Pemulihan Listrik di Aceh, 6.432 Desa Kembali Menyala

PLN
PLTA Sipansihaporas, Bukti Komitmen PLN Minimalkan Risiko Banjir di Tapanuli Tengah

PLTA Sipansihaporas, Bukti Komitmen PLN Minimalkan Risiko Banjir di Tapanuli Tengah

PLN
Terangi Aceh Pascabencana, PLN Distribusikan 1.000 Genset ke Wilayah Terparah

Terangi Aceh Pascabencana, PLN Distribusikan 1.000 Genset ke Wilayah Terparah

PLN
Tahun Baru Energi Baru, PLN Tebar Diskon 50 Persen untuk Tambah Daya lewat Aplikasi PLN Mobile

Tahun Baru Energi Baru, PLN Tebar Diskon 50 Persen untuk Tambah Daya lewat Aplikasi PLN Mobile

PLN
PLN Siagakan 4.648 Unit SPKLU Selama Nataru, Konsumsi Listrik EV Meningkat 479 Persen

PLN Siagakan 4.648 Unit SPKLU Selama Nataru, Konsumsi Listrik EV Meningkat 479 Persen

PLN
Dukung Percepatan Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang, PLN Siapkan Infrastruktur Kelistrikan

Dukung Percepatan Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang, PLN Siapkan Infrastruktur Kelistrikan

PLN
Tarif Listrik Januari–Maret 2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Andal

Tarif Listrik Januari–Maret 2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Andal

PLN
Waspada Cuaca Ekstrem, PLN Siagakan 69.000 Personel Amankan Listrik Nataru 2025/2026

Waspada Cuaca Ekstrem, PLN Siagakan 69.000 Personel Amankan Listrik Nataru 2025/2026

PLN
PLN Pastikan Sistem Kelistrikan Aceh Pulih, 20 Gardu Induk Kembali Beroperasi

PLN Pastikan Sistem Kelistrikan Aceh Pulih, 20 Gardu Induk Kembali Beroperasi

PLN
Antisipasi Lonjakan Konsumsi Listrik Nataru 2025/2026, PLN Siapkan Cadangan Daya 7,1 GW

Antisipasi Lonjakan Konsumsi Listrik Nataru 2025/2026, PLN Siapkan Cadangan Daya 7,1 GW

PLN
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com