Dukung Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen, PLN Fokus Tingkatkan Infrastruktur Energi Hijau

Kompas.com - 14/11/2024, 15:40 WIB
DWN,
Mikhael Gewati

Tim Redaksi

KOMPAS.com - PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) ( PLN) memegang peran krusial dalam mewujudkan target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang diharapkan pemerintah.

Salah satu upaya PLN dalam mendukung pencapaian tersebut adalah dengan mengembangkan infrastruktur energi hijau. Langkah ini tidak hanya berkontribusi pada upaya menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, tetapi juga meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.

Executive Vice President Pengembangan Produk Niaga PLN Ririn Rachmawardini menekankan pentingnya sektor kelistrikan dalam mendukung perekonomian nasional.

“Salah satu contoh konkret adalah pesatnya perkembangan industri kendaraan listrik di Indonesia. Dengan adanya pabrik-pabrik mobil listrik yang kini dibangun, tidak hanya menyerap tenaga kerja lokal, tetapi juga mendorong berkembangnya industri-industri pendukungnya,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (14/11/2024).

Baca juga: Di COP29, PLN Paparkan Strategi Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan Manfaatkan EBT

Pernyataan tersebut disampaikan Ririn dalam diskusi terbatas ”CEO Connect: Mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen, Kolaborasi Strategis dalam Pembangunan Infrastruktur Hijau, Digitalisasi, dan Pengembangan SDM” yang digelar Harian Kompas dan PLN di Jakarta, Rabu (13/11/2024).

Ia menjelaskan bahwa PLN juga menerbitkan Renewable Energy Certificate (REC), sebuah sertifikat yang diberikan kepada pelanggan yang menggunakan listrik yang bersumber dari energi terbarukan.

“Perusahaan yang memiliki sertifikat REC akan mendapatkan pengakuan global. Untuk memasuki pasar internasional, perusahaan harus memenuhi beberapa persyaratan, dan salah satunya adalah penggunaan energi hijau,” imbuh Ririn.

Untuk diketahui, dalam acara tersebut juga menghadirkan pembicara lain, di antaranya ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Dradjad Wibowo, partner East Ventures, Melisa Irene, dan partner Skystar Capital Edward Gunawan.

Pentingnya stimulus Keynesian

Sebelumnya, ekonom senior Indef, Dradjad Wibowo, menekankan bahwa untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen, diperlukan stimulus Keynesian, yaitu kebijakan stimulus dan belanja pemerintah. Hal ini bertujuan untuk menjaga daya beli masyarakat dan menggerakkan permintaan.

Selain itu, Dradjad juga menekankan bahwa yang lebih krusial adalah pemangkasan birokrasi dan deregulasi untuk menciptakan ruang bagi sektor swasta untuk berkembang.

"Jika kita hanya mengandalkan negara, kita tidak akan bisa mencapai target tersebut karena kapasitas pemerintah terbatas. Pemerintah harus sedikit hands off dan memberi ruang lebih besar untuk sektor swasta," ujarnya.

Baca juga: Dukung Transisi Energi Berkelanjutan di Indonesia, PLN Fokus pada Pendanaan Hijau

Meskipun sudah ada berbagai upaya dalam 10 tahun terakhir untuk menyederhanakan birokrasi, Dradjad menilai bahwa masalah birokrasi yang rumit masih menjadi hambatan besar.

Ia mengungkapkan bahwa masalah tersebut sempat dikeluhkan oleh Presiden ke-7 Republik Indonesia (RI) Joko Widodo (Jokowi) menjelang akhir masa jabatannya pada Oktober 2024.

Menurut Dradjad, untuk memperbaiki keadaan, reformasi birokrasi harus disertai dengan pembangunan dan penguatan sistem yang melibatkan pihak-pihak kredibel yang dapat menerapkannya dengan baik.

Sebagai langkah konkret, Dradjad mengusulkan agar setiap kementerian dan lembaga (K/L) diberi key performance indicator (KPI) yang mengukur kemudahan berusaha (ease of doing business).

Baca juga: Heri Koswara Soroti Jual Beli Jabatan di Pemkot Bekasi dan Janjikan Reformasi Birokrasi

Para pelaku usaha yang mengajukan izin bisa memberi penilaian secara anonim terhadap kualitas pelayanan yang diberikan. Dengan begitu, dapat terlihat dengan jelas K/L mana saja yang sudah melaksanakan kebijakan deregulasi dengan baik, dan yang masih perlu diperbaiki.

Meski demikian, Dradjad juga mengingatkan bahwa mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen bukanlah tugas yang mudah.

Dalam simulasi yang diakukan, ia memaparkan bahwa untuk sampai ke angka tersebut, ada tahapan pertumbuhan yang harus dilalui.

Pada 2025, ekonomi harus tumbuh sebesar 5,89 persen, diikuti oleh 6,45 persen pada 2026, 7,11 persen pada 2027, dan 7,90 persen pada 2028. Barulah pada 2029, pertumbuhan ekonomi diharapkan mencapai 8,85 persen.

Menciptakan narasi positif tentang potensi Indonesia

Sementara itu, partner East Ventures Melisa Irene menekankan pentingnya menciptakan narasi positif tentang potensi Indonesia dan menggambarkan negara ini sebagai tempat yang ideal untuk berinvestasi.

Ia mengungkapkan bahwa investor akan selalu memilih lokasi yang dapat memberikan return yang baik, dan Indonesia harus mampu bersaing dengan negara lain yang juga mengincar investasi.

Baca juga: Di COP29, PLN Nyatakan Siap Dukung Target Pemerintah Manfaatkan Energi Terbarukan 75 Persen hingga 2040

East Ventures, kata Melisa, berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan Indonesia dengan berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang mengangkat potensi lokal.

"Perusahaan-perusahaan ini akan menonjolkan apa yang bisa dilakukan secara lokal. Ketika kita memiliki perusahaan-perusahaan yang sukses, itu akan menjadi cerita bahwa Indonesia sedang mengalami pertumbuhan yang sehat, ditambah dengan bonus demografi," ujarnya.

Di sisi lain, partner Skystar Capital Edward Gunawan mengungkapkan bahwa kapasitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia sejatinya tak kalah dengan negara-negara maju lainnya.

Akan tetapi, sebut di, diperlukan dorongan untuk mengolaborasikan individu-individu potensial agar dapat bertukar ide dan mengembangkan inovasi.

Baca juga: PLN Siap Dukung Transisi Energi Indonesia melalui Pembangkit EBT di COP 29

Selain itu, Edward juga menekankan pentingnya pengembangan riset untuk mendorong inovasi.

"Indonesia masih tertinggal dalam hal ini. Saat ini, per satu juta orang di Indonesia hanya ada 400 peneliti, jauh lebih rendah dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS) yang memiliki 4.400 peneliti per satu juta orang, atau China dengan 1.700 peneliti per satu juta orang," ujarnya.

Sebagai informasi, CEO Connect adalah bagian dari Kompas100 CEO Forum Powered by PLN dipandu oleh Harian Kompas dan didukung oleh PLN, East Ventures, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, Skystar Capital, dan PT Angkasa Pura.

Terkini Lainnya
PLN Berikan 3 Tips Aman dari Bahaya Listrik saat Cuaca Ekstrem

PLN Berikan 3 Tips Aman dari Bahaya Listrik saat Cuaca Ekstrem

PLN
ICONNET Beri Diskon hingga 75 Persen bagi Pelanggan Terdampak Bencana di Sumatera

ICONNET Beri Diskon hingga 75 Persen bagi Pelanggan Terdampak Bencana di Sumatera

PLN
Penjualan REC PLN Tumbuh 19,65 Persen, Industri Berat dan Manufaktur Besar Jadi Pendorong Utama

Penjualan REC PLN Tumbuh 19,65 Persen, Industri Berat dan Manufaktur Besar Jadi Pendorong Utama

PLN
Rumah Baru Anti Gelap, Begini Cara Praktis Pasang Listrik via PLN Mobile

Rumah Baru Anti Gelap, Begini Cara Praktis Pasang Listrik via PLN Mobile

PLN
Bikin Hajatan Tanpa Genset, Begini Cara Pesan Listrik Sementara via PLN Mobile

Bikin Hajatan Tanpa Genset, Begini Cara Pesan Listrik Sementara via PLN Mobile

PLN
PLN Percepat Pemulihan Listrik di Aceh, 6.432 Desa Kembali Menyala

PLN Percepat Pemulihan Listrik di Aceh, 6.432 Desa Kembali Menyala

PLN
PLTA Sipansihaporas, Bukti Komitmen PLN Minimalkan Risiko Banjir di Tapanuli Tengah

PLTA Sipansihaporas, Bukti Komitmen PLN Minimalkan Risiko Banjir di Tapanuli Tengah

PLN
Terangi Aceh Pascabencana, PLN Distribusikan 1.000 Genset ke Wilayah Terparah

Terangi Aceh Pascabencana, PLN Distribusikan 1.000 Genset ke Wilayah Terparah

PLN
Tahun Baru Energi Baru, PLN Tebar Diskon 50 Persen untuk Tambah Daya lewat Aplikasi PLN Mobile

Tahun Baru Energi Baru, PLN Tebar Diskon 50 Persen untuk Tambah Daya lewat Aplikasi PLN Mobile

PLN
PLN Siagakan 4.648 Unit SPKLU Selama Nataru, Konsumsi Listrik EV Meningkat 479 Persen

PLN Siagakan 4.648 Unit SPKLU Selama Nataru, Konsumsi Listrik EV Meningkat 479 Persen

PLN
Dukung Percepatan Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang, PLN Siapkan Infrastruktur Kelistrikan

Dukung Percepatan Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang, PLN Siapkan Infrastruktur Kelistrikan

PLN
Tarif Listrik Januari–Maret 2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Andal

Tarif Listrik Januari–Maret 2026 Tidak Naik, PLN Pastikan Layanan Tetap Andal

PLN
Waspada Cuaca Ekstrem, PLN Siagakan 69.000 Personel Amankan Listrik Nataru 2025/2026

Waspada Cuaca Ekstrem, PLN Siagakan 69.000 Personel Amankan Listrik Nataru 2025/2026

PLN
PLN Pastikan Sistem Kelistrikan Aceh Pulih, 20 Gardu Induk Kembali Beroperasi

PLN Pastikan Sistem Kelistrikan Aceh Pulih, 20 Gardu Induk Kembali Beroperasi

PLN
Antisipasi Lonjakan Konsumsi Listrik Nataru 2025/2026, PLN Siapkan Cadangan Daya 7,1 GW

Antisipasi Lonjakan Konsumsi Listrik Nataru 2025/2026, PLN Siapkan Cadangan Daya 7,1 GW

PLN
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com