KOMPAS.com - Suara dengung mesin genset yang memecah keheningan sore di Desa Pante Peusangan, Kabupaten Bireuen, menjadi bunyi yang paling dirindukan warga dalam sepekan terakhir.
Di balik sisa-sisa lumpur akibat banjir yang memutus urat nadi kelistrikan, tawa anak-anak kembali terdengar di bawah cahaya lampu musala yang kembali berpijar.
Setelah berhari-hari hidup dalam kegelapan akibat banjir yang memutus aliran listrik, kehadiran genset dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN menjadi sumber cahaya sementara sekaligus harapan bagi masyarakat setempat.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa secara sistem, jaringan kelistrikan tegangan tinggi di Aceh telah kembali terhubung.
Namun, jaringan tegangan rendah masih terkendala, terutama pada jalur distribusi di wilayah dengan akses terbatas serta infrastruktur yang rusak atau masih tergenang air.
Baca juga: Bos PLN: Kerusakan Sistem Listrik Dampak Banjir-Longsor Aceh Lebih Masif dari Tsunami 2004
“Atas arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto, kami bersama PLN mengoptimalkan kekuatan negara dengan menyalurkan 1.000 unit genset sebagai solusi sementara bagi masyarakat,” kata Bahlil dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (12/1/2026).
Hal itu disampaikan Bahlil dalam pelepasan bantuan 1.000 genset di Jakarta, Sabtu (27/12/2025).
Dia menambahkan, distribusi genset difokuskan ke wilayah yang paling terdampak, seperti Kabupaten Aceh Tamiang, Bener Meriah, Aceh Utara, Aceh Tengah, Gayo Lues, serta sejumlah wilayah lainnya di Aceh.
Sementara itu, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menegaskan bahwa meski menghadapi tantangan medan dan keterbatasan akses, PLN terus berupaya mempercepat pemulihan jaringan distribusi di seluruh wilayah terdampak bencana.
“Pemulihan infrastruktur kelistrikan di wilayah terdampak bencana menjadi prioritas utama PLN,” ujarnya.
Baca juga: PLN Akui Listrik di Aceh Belum Pulih 100 Persen
Darmawan menyebutkan, PLN bergerak bersama pemerintah daerah (pemda), Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses listrik.
Upaya itu dilakukan melalui perbaikan jaringan maupun penyediaan sumber listrik sementara.
“Kami berkomitmen menghadirkan kembali layanan listrik secara bertahap dengan mengedepankan aspek keselamatan dan keandalan agar masyarakat dapat segera beraktivitas secara normal,” kata Darmawan.
Direktur Distribusi PLN Arsyadany Ghana Akmalaputri menambahkan, PLN terus bekerja di lapangan dengan mengerahkan personel serta berkoordinasi lintas sektor untuk memulihkan jaringan distribusi.
Pada saat yang sama, PLN memastikan masyarakat di wilayah terisolasi tetap mendapat akses listrik melalui penyediaan genset.
Baca juga: Ciptakan Solusi Energi Bersih bagi Masyarakat Kepulauan, Inovasi Unhas dilirik PLN
“Di tengah keterbatasan akses dan tantangan geografis, listrik menjadi denyut kehidupan yang harus tetap hadir bagi masyarakat,” kata Arsyadany saat terjun langsung mengawal pendistribusian genset.
Dia mengatakan, bantuan genset dari Kementerian ESDM merupakan perantara sementara agar aktivitas warga, ibadah, layanan sosial, hingga komunikasi tetap berjalan.
“Di sisi lain, tim PLN terus bekerja di lapangan, berkoordinasi lintas sektor, dan memastikan setiap upaya pemulihan dilakukan secara bertahap hingga sistem kelistrikan benar-benar pulih dan kembali andal,” jelas Arsyadany.
Sebelumnya, banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh tidak hanya merendam permukiman, tetapi juga memutus jaringan listrik di daerah-daerah yang sulit dijangkau.
Hingga kini, masih terdapat desa-desa yang terisolasi sehingga pengangkutan material dan peralatan PLN terkendala akses jalan.
Baca juga: Tunggak Pembayaran, Aliran Listrik Kantor Desa Sumberjaya Bekasi Diputus PLN
Dalam situasi tersebut, Kementerian ESDM memberikan solusi sementara dengan pemberian bantuan 1.000 genset agar masyarakat di Aceh tetap memiliki akses listrik untuk kebutuhan dasar.
Di tengah suasana yang mulai berangsur pulih, Nirwa, warga Desa Pante Peusangan, tak kuasa menahan tangis haru saat bantuan genset tiba dan siap menerangi malam di desanya.
Baginya, listrik bukan sekadar penerangan, melainkan penopang aktivitas sehari-hari masyarakat di tengah masa pemulihan.
“Alhamdulillah. Kami senang sekali. Terima kasih kepada Bapak Menteri ESDM dan PLN. Kami sangat senang menerima bantuan (genset) ini,” tutur Nirwa dengan suara bergetar.
Kegembiraan serupa juga dirasakan pengurus Musala Dusun Tanoh Rata, Desa Pante Peusangan, Muhammad Lidan.
Baca juga: Setiap Hari Menantang Maut, Pengabdian Guru di Aceh Tengah Menggetarkan
Ia mengatakan, sebelum kehadiran bantuan genset, warga sulit menjalani aktivitas ibadah khususnya pada malam hari tanpa penerangan.
“Semenjak ada masuk genset ini, alhamdulillah segala urusan (ibadah) bisa kami selesaikan. Urusan lainnya adalah terkait penyebaran informasi. Semuanya sudah terlaksana. Sekali lagi kami sebagai masyarakat sangat berterima kasih,” ujar Lidan.
Kepala Desa Pante Peusangan, Samsudin menjelaskan, genset merupakan penopang utama aktivitas warga sembari menunggu jaringan listrik PLN dapat dipulihkan secara permanen.
“Dengan adanya genset ini, masyarakat tetap mendapat penerangan sementara, sebelum jaringan instalasi listrik PLN dapat diselesaikan,” katanya.
Mewakili masyarakat desa, Samsudin mengucapkan terima kasih kepada Kementerian ESDM, PLN, dan semua pihak yang telah membantu.
Baca juga: Korban Banjir Aceh Tamiang Tolak Pindah ke Huntara: Lokasi Jauh, Pilih Bertahan di Tenda
Cerita serupa datang dari Desa Riseh Tunong, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara.
Kepala Desa Riseh Tunon, Abdurrahman menyampaikan, bantuan genset tersebut sangat membantu warga di wilayah yang masih terisolasi dan belum sepenuhnya terjangkau jaringan listrik.
“ Genset ini kami manfaatkan untuk penerangan fasilitas umum, masjid, pesantren, hingga lokasi pengungsian. Alhamdulillah, sekarang penerangan bisa menyala dan masyarakat merasa lebih aman,” jelasnya.
Di tengah keterbatasan akses dan tantangan geografis, sinergi antara Kementerian ESDM, PLN, pemda, dan berbagai pihak menjadi kunci.
Kehadiran genset bukan sekadar mesin pembangkit, tetapi penopang kehidupan sementara, menjaga terang tetap menyala di rumah, fasilitas umum, dan lokasi pengungsian.
Baca juga: 1.200 Huntara untuk Pengungsi Dibangun di Aceh Utara, Pekan Depan Rampung
Berbagai upaya itu akan terus dilakukan hingga Aceh sepenuhnya pulih dan aliran listrik kembali mengalir secara menyeluruh.