KOMPAS.com – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menegaskan komitmennya dalam menjalankan tata kelola perusahaan yang bersih ( good corporate governance/GCG) melalui pengelolaan bahan bakar minyak ( BBM) subsidi sepanjang 2025.
Dengan total pemanfaatan mencapai 212.553.184 kiloliter, KAI memastikan setiap liter energi bersubsidi dialokasikan secara akuntabel demi mendukung transportasi publik yang terjangkau dan distribusi logistik nasional yang efisien.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan, tata kelola perusahaan yang baik menjadi landasan utama dalam perencanaan, penggunaan, dan pengawasan BBM subsidi.
“Pemanfaatan BBM subsidi dilakukan secara transparan dan sesuai regulasi. Prinsip GCG memastikan subsidi energi dikelola secara akuntabel untuk kepentingan publik dan keberlanjutan layanan,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamsi (29/1/2026).
Baca juga: KAI Siaga Hadapi Lonjakan Penumpang Mudik Lebaran 2026
Anne menambahkan, penguatan akuntabilitas pemanfaatan BBM subsidi dilaksanakan melalui pengawasan berlapis serta koordinasi berkelanjutan bersama Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).
“KAI akan terus memperkuat kolaborasi dengan BPH Migas dan seluruh pemangku kepentingan agar pemanfaatan BBM subsidi tetap selaras dengan tata kelola perusahaan yang baik serta memberikan dampak sosial dan ekonomi yang berkelanjutan,” katanya.
Sepanjang 2025, pemanfaatan BBM subsidi KAI tercatat sebesar 212.553.184 kiloliter. Rinciannya meliputi kereta api penumpang sebesar 189.517.190 liter, angkutan peti kemas 15.312.014 liter, parcel 3.775.884 liter, semen 3.275.026 liter, serta klinker 673.070 liter.
Komposisi tersebut mencerminkan pengelolaan energi yang terukur antara layanan publik dan dukungan terhadap aktivitas ekonomi nasional.
Selaras dengan pengelolaan energi tersebut, kinerja layanan penumpang KAI juga menunjukkan pertumbuhan.
Baca juga: Prediksi KAI, 5,2 Juta Penumpang Gunakan Kereta saat Mudik Lebaran
Sepanjang 2025, KAI melayani 55.620.561 pelanggan, meningkat 7,3 persen dibandingkan 2024 yang tercatat sebanyak 51.839.503 pelanggan.
Dari total pelanggan tersebut, sebanyak 17.644.768 pelanggan merupakan pengguna layanan kereta api Public Service Obligation (PSO). Rinciannya terdiri atas 11.418.824 pelanggan KA Jarak Jauh PSO dan 6.225.944 pelanggan KA Lokal PSO yang dikelola KAI.
Penugasan PSO dari pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan bertujuan memastikan akses transportasi yang terjangkau bagi masyarakat.
Selain layanan yang dikelola langsung oleh KAI, penugasan PSO juga mencakup KAI Commuter serta Light Rail Transit (LRT) Jakarta–Bogor–Depok–Bekasi (Jabodebek).
Sepanjang 2025, KAI Commuter melayani 400.737.915 pelanggan, sedangkan LRT Jabodebek melayani 28.816.787 pelanggan, memperkuat sistem transportasi massal perkotaan.
Pada layanan bandara, PSO juga diberikan kepada KA Srilelawangsa di Medan dan sebagian KA Yogyakarta International Airport (YIA) untuk mendukung konektivitas antarmoda.
Baca juga: Mudik Lebaran 2026 Naik Kereta? Catat 5 Tips War Tiket dari KAI
Di sektor logistik, KAI mencatat volume angkutan barang sebesar 69.791.691 ton sepanjang 2025, meningkat dibandingkan pada 2024 yang mencapai 69.201.670 ton.
Capaian tersebut menegaskan peran kereta api dalam menjaga kelancaran distribusi nasional dan efisiensi rantai pasok.