KOMPAS.com - Dalam semarak hari raya Galungan yang diperingati pada Rabu (17/6/2026), ribuan umat Hindu memadati kawasan suci Besakih untuk melaksanakan persembahyangan.
Deretan penjor yang menjulang, lantunan doa yang mengalun khidmat, serta atmosfer spiritual yang menyelimuti kawasan tersebut menghadirkan pengalaman budaya dan religius yang bermakna bagi umat Hindu.
Suasana itu juga menjadi simbol kekayaan peradaban Indonesia yang dihormati masyarakat dari berbagai latar belakang.
Di tengah momentum sakral tersebut, PT Waskita Karya (Persero) Tbk turut mengambil bagian dalam pelestarian salah satu mahakarya budaya bangsa melalui revitalisasi kawasan suci Besakih.
Proyek revitalisasi tersebut diselesaikan pada 2021 dengan nilai kontrak sebesar Rp 201 miliar.
Dalam proyek itu, Waskita Karya menghadirkan infrastruktur yang mendukung kenyamanan beribadah sekaligus menjaga kelestarian identitas budaya Bali yang telah diwariskan lintas generasi.
Baca juga: Pura Besakih Bali Dipugar, 30 Titik Suci Direstorasi dengan Dana Rp 1 Triliun Lebih
Corporate Secretary Waskita Karya Ermy Puspa Yunita mengatakan, pembangunan infrastruktur memiliki makna yang melampaui aspek fisik bangunan.
“Bagi Waskita, pembangunan bukan hanya tentang menghadirkan konstruksi yang kokoh, tetapi juga menjaga ruang hidup bagi nilai-nilai budaya, spiritualitas, dan kebersamaan masyarakat,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Rabu (17/6/2026).
Ermy menyebutkan, Waskita Karya merasa terhormat dapat berkontribusi pada kawasan yang tidak hanya menjadi pusat ibadah umat Hindu, tetapi juga simbol harmoni antara tradisi, kearifan lokal, dan kemajuan Indonesia.
Adapun revitalisasi kawasan suci Besakih mencakup pembangunan dan penataan berbagai fasilitas strategis, mulai dari Pelataran Manik Mas, gedung parkir sepeda motor, Wiyata Mandala, area Bencingah, jalur pedestrian, taman kawasan, hingga berbagai infrastruktur pendukung yang meningkatkan aksesibilitas dan kenyamanan pengunjung.
Waskita Karya juga membangun fasilitas sosial masyarakat, seperti kantor desa, badan usaha milik desa (BUMDes), dan wantilan yang memperkuat fungsi kawasan sebagai pusat kehidupan sosial dan budaya masyarakat sekitar.
Baca juga: Ritual Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Besakih Bali, 28.000 Umat Datang Tiap Hari
Kawasan Suci Pura Agung Besakih di lereng Gunung Agung, Karangasem, Bali yang direvitalisasi Waskita Karya.Ermy menambahkan, revitalisasi tersebut juga dilakukan sebagai upaya menjaga autentisitas bangunan yang dipercaya telah berdiri sejak abad ke-8.
Dia menegaskan, Waskita Karya berupaya memastikan pengembangan kawasan suci tetap selaras dengan nilai sejarahnya.
Dalam pelaksanaannya, Waskita Karya mengedepankan prinsip pelestarian warisan budaya dengan menjaga karakter arsitektur Bali yang sarat filosofi dan nilai historis.
Pendekatan itu dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan guna memastikan setiap elemen pembangunan tetap selaras dengan identitas dan kesakralan kawasan.
Ermy mengatakan, lebih dari sekadar destinasi religius, Besakih merupakan salah satu aset budaya Indonesia yang memiliki daya tarik global.
Baca juga: Cerita Tukang Ojek Dadakan Raup Cuan hingga Rp 500.000 Per Hari Saat Upacara di Pura Besakih
Keberadaan kawasan tersebut tidak hanya memperkuat identitas budaya nasional, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Sebab, kawasan suci Besakih turut menjadi penggerak sektor pariwisata, ekonomi kreatif, usaha mikro kecil menengah (UMKM) lokal, serta berbagai aktivitas sosial budaya yang tumbuh di sekitarnya.
Waskita Karya meyakini, infrastruktur yang dibangun dengan menghormati budaya lokal akan menciptakan manfaat berkelanjutan.
Oleh karena itu, setiap proyek diarahkan untuk menghadirkan nilai tambah yang lebih luas, mulai dari peningkatan kualitas hidup masyarakat, pelestarian warisan budaya bangsa, hingga penguatan daya saing Indonesia di mata dunia.
Momentum hari raya Galungan menjadi pengingat bahwa keberagaman budaya dan keyakinan merupakan kekuatan yang mempersatukan bangsa.
Sejalan dengan semangat tersebut, Waskita Karya terus berkomitmen membangun infrastruktur yang tidak hanya menghubungkan wilayah, tetapi juga merawat identitas, memperkuat toleransi, dan membuka peluang pertumbuhan yang inklusif bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Baca juga: Disebut Mother Temple of Bali, Inilah Sejarah Panjang Pura Besakih
Kawasan Suci Pura Agung Besakih di lereng Gunung Agung, Karangasem, Bali yang direvitalisasi Waskita Karya. Ermy mengatakan, pengerjaan kawasan Pura Agung Besakih semakin memperkuat rekam jejak Waskita Karya dalam menghadirkan infrastruktur strategis yang kaya nilai sosial.
“Proyek ini turut menegaskan komitmen perseroan sebagai BUMN Konstruksi dalam berkontribusi terhadap pembangunan inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi pada penciptaan nilai jangka panjang bagi bangsa," jelasnya.
Dia menegaskan, infrastruktur tidak hanya membangun ruang, tetapi juga menjaga makna.
Melalui revitalisasi kawasan suci Besakih, Waskita berupaya menghadirkan manfaat yang melampaui konstruksi, yakni turut merawat warisan budaya bangsa, memperkuat harmoni sosial, dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Ermy menilai, keberhasilan sebuah proyek tidak hanya diukur dari kualitas bangunannya, tetapi juga dari nilai sosial, budaya, dan ekonomi yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Baca juga: Ini Jejak Proyek Perluasan Mataf Masjidil Haram Garapan Waskita
“Kami percaya, ketika budaya tetap lestari, masyarakat dapat bertumbuh, ekonomi lokal bergerak, dan harmoni dalam keberagaman semakin kuat," tuturnya.