KOMPAS.com - PT Waskita Karya (Persero) Tbk terus melakukan penyehatan keuangan.
Upaya tersebut tecermin dari perolehan total pendapatan konsolidasi sebesar Rp 8,85 triliun pada 2025.
Angka tersebut didukung kontribusi anak usaha sebesar Rp 3,1 triliun, sementara pendapatan induk perusahaan mencapai Rp 5,75 triliun.
Corporate Secretary Waskita Karya Ermy Puspa Yunita mengatakan, pendapatan perseroan ditopang oleh sejumlah proyek yang tengah dikerjakan.
Berdasarkan segmentasi usaha, pendapatan Waskita Karya berasal dari segmen konektivitas sebesar Rp 3,3 triliun, sumber daya air (SDA) Rp 1,4 triliun, gedung Rp 1,2 triliun, serta segmen lainnya Rp 0,9 triliun.
Menurut Ermy, sebagian besar pendapatan tersebut diperoleh dari proyek pemerintah, yang sekaligus memperkuat komitmen Waskita Karya dalam mendukung program pemerintah.
Baca juga: Waskita Beton Cetak Rugi Rp 537 Miliar di Tahun 2025
Ia menambahkan, perseroan masih mencatat beban pokok pendapatan sebesar Rp 7,2 triliun atau 82 persen dari pendapatan usaha.
Selain menyelesaikan proyek baru sesuai kontrak, perseroan juga menuntaskan proyek lama yang masih memerlukan cash to completion, dengan target penyelesaian pada 2026.
Pada 2025, Waskita Karya mencatat laba bruto sebesar Rp 1,58 triliun atau naik sekitar 12 persen dibandingkan 2024 sebesar Rp 1,41 triliun.
Perseroan juga mencatat gross profit margin sebesar 18 persen pada 2025, meningkat dari 13 persen pada 2024.
“Peningkatan laba bruto ini diraih Waskita berkat strategi efisiensi operasional proyek, baik di induk maupun anak usaha,” ujar Ermy dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (2/4/2026).
Baca juga: Waskita Beton Bayar Utang Tahap Ketujuh, Nilainya Rp 109,22 Miliar
Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas proyek, Waskita Karya menerapkan lean organization serta melakukan transformasi digital di berbagai bidang.
Pada aspek operasional, Waskita Karya mengintegrasikan sistem ERP SAP S/4 HANA dengan Building Information Modelling (BIM) serta perencanaan Last Planner System (LPS).
Perseroan juga mengembangkan inovasi digital, seperti penggunaan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) melalui Waskita Intelligent Sensing System (Wisens).
Salah satu inovasinya adalah AI Pavement Crack Detection yang digunakan untuk mendeteksi kerusakan jalan guna mendukung target zero defect dalam proses konstruksi.
Baca juga: Waskita Karya Kembali Gelar Mudik Bersama BUMN, Ratusan Pemudik Diberangkatkan dari Jakarta
“Dengan teknologi ini, penghitungan jenis dan jumlah kerusakan dapat dilakukan secara lebih efisien. Waktu inspeksi juga dapat dipercepat hingga lebih dari 40 persen,” jelasnya.
Selain itu, Waskita Karya terus memperkuat tata kelola teknologi informasi melalui pengembangan sistem, seperti dashboard manajemen terintegrasi dan penyempurnaan sistem keuangan untuk mendukung Internal Control Over Financial Reporting (ICOFR).
Menurut Ermy, transformasi tersebut bertujuan menciptakan operational excellence secara berkelanjutan.
“Kami berupaya menyelesaikan proyek dengan mutu terbaik, tepat waktu, dan biaya yang efisien,” ujarnya.
Baca juga: Waskita Karya Bersama Danantara Serahkan 600 Huntara ke Pemkab Aceh Tamiang
Pekerja lapangan Waskita Karya.Dari sisi keuangan, Waskita Karya mencatat biaya operasional (operating expenses/opex) sebesar Rp 1,7 triliun. Sebanyak 76,6 persen merupakan biaya operasional kas, sementara 23,4 persen sisanya berupa nonkas, seperti penyusutan dan amortisasi.
Secara keseluruhan, perusahaan berkode saham WSKT tersebut berhasil menurunkan liabilitas sebesar Rp 2,21 triliun pada 2025.
Ermy mengungkapkan, fokus manajemen saat ini adalah menurunkan liabilitas melalui percepatan divestasi jalan tol dan optimalisasi aset, sebagai bagian dari strategi kembali ke bisnis inti sebagai kontraktor murni.
Ia menjelaskan, sepanjang 2025, Waskita melakukan sejumlah aksi korporasi, antara lain divestasi PT Waskita Sangir Energi (WSE) sebesar 94,7 persen melalui anak usaha PT Waskita Karya Infrastruktur (WKI) pada September.
Baca juga: Anak Usaha Waskita (WSKT) Direstrukturisasi, Bunga Kredit Turun dari 15 Persen ke 9 Persen
“Kemudian pelepasan 35 persen saham PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) yang dilakukan PT Waskita Toll Road pada November," jelas Ermy.
Pada Desember 2025, Waskita Karya melalui PT Waskita Karya Realty (WKR) juga mendivestasikan 20 persen saham PT Waskita Modern Realty (WMR).
Langkah tersebut bertujuan mengoptimalkan portofolio investasi sekaligus memperkuat likuiditas keuangan.
Ermy mengatakan, Waskita juga tetap menambah kontrak baru secara selektif, dengan mempertimbangkan skema monthly payment dan menghindari proyek turnkey.
“Melalui Komite Manajemen Konstruksi, perseroan memastikan proyek yang dikelola tidak membebani keuangan dan memiliki risiko rendah,” ujarnya.
Adapun total nilai kontrak baru (NKB) Waskita mencapai Rp 12,52 triliun, meningkat signifikan dibandingkan 2024 sebesar Rp 9,55 triliun.
Baca juga: Bukti Transparansi, Waskita Karya Raih Predikat Informatif dari Komisi Informasi Pusat
Perolehan tersebut didominasi proyek pemerintah, seperti jaringan irigasi, Sekolah Rakyat (SR), serta pembangunan rumah sakit umum daerah (RSUD) di berbagai wilayah.
Proyek-proyek tersebut mendukung Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) pemerintah.
Ermy mengatakan, pengerjaan proyek-proyek tersebut merupakan wujud kontribusi Waskita dalam menyukseskan upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan yang menjadi fokus pemerintah saat ini.
“Kami akan terus mendorong sekaligus mendukung keberhasilan program pemerintah,” tegasnya.
Dari sisi operasional, per 31 Desember 2025, Waskita mengelola 63 proyek di berbagai wilayah di Indonesia dengan total nilai kontrak mencapai Rp 31,7 triliun.
Pekerja lapangan Humas Waskita Karya.Ermy menegaskan, fokus utama Waskita Karya adalah menurunkan total utang.
Baca juga: RUPO Waskita Karya (WSKT) Gagal, Restrukturisasi Obligasi Terancam Molor
Hal itu dilakukan melalui Master Restructuring Agreement (MRA) dan Kredit Modal Kerja Penjaminan (KMKP) 2021 yang telah disetujui 22 kreditur perbankan pada Oktober 2024, dengan total outstanding Rp 31,65 triliun.
Selain itu, restrukturisasi obligasi nonpenjaminan senilai Rp 3,35 triliun juga telah mendapatkan persetujuan untuk tiga dari empat seri melalui Rapat Umum Pemegang Saham Obligasi (RUPO).
Upaya tersebut sejalan dengan Rencana Penyehatan Keuangan (RPK) yang telah disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
“Ke depannya, Waskita berkomitmen untuk kembali ke core business sebagai kontraktor murni, demi menciptakan kegiatan operasional yang lebih sustainable,” ujar Ermy.
Ia menambahkan, inovasi dalam memperkuat tata kelola dan manajemen risiko juga dilakukan melalui pembentukan berbagai komite, baik di tingkat dewan komisaris maupun direksi.
Baca juga: Waskita Karya (WSKT) Garap Proyek Kompleks DPR di IKN Rp 1,84 Triliun
“Langkah ini diharapkan membuat perusahaan lebih adaptif dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan," jelas Ermy.