KOMPAS.com - PT Waskita Karya (Persero) Tbk mencatat 7,5 juta jam kerja selamat tanpa kecelakaan kerja (lost time injury) pada proyek pembangunan LRT Jakarta Fase 1B.
Capaian tersebut membuktikan konsistensi perseroan dalam menerapkan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di lapangan.
Corporate Secretary Waskita Karya Ermy Puspa Yunita mengatakan, angka tersebut menunjukkan akumulasi jam kerja seluruh proyek tanpa insiden yang mengakibatkan hari kerja hilang.
Keberhasilan mencatat 7,5 juta jam kerja selamat itu juga menjadi fondasi penting dalam pelaksanaan proyek yang berada di tengah padatnya lalu lintas Jakarta dan ruang kerja yang terbatas.
Baca juga: Proyek LRT Jakarta Velodrome-Manggarai Capai 80,57 Persen, Target Rampung 2026
Ermy menyebutkan, tantangan utama atau urban constraint dalam pengerjaan proyek LRT Jakarta Fase 1B adalah padatnya lalu lintas ibu kota.
"Maka, kami sebagai kontraktor berupaya mengoptimalkan waktu kerja pada malam hari yang menuntut fokus dan inovasi pada sistem safety dan sistem kerja. Waskita melihat ini sebagai constraint yang harus dikelola bukan dihindari," ujar Ermy dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Senin (15/6/2026).
Sebelumnya, Waskita bersama PT Jakarta Propertindo (Perseroda) atau Jakpro sebagai pemilik proyek telah memulai rangkaian testing and commissioning (T&C) sistem perkeretaapian LRT Jakarta Fase 1B Velodrome-Manggarai.
Salah satu tahap yang dilakukan adalah tes jalur lintasan atau train run sepanjang 3,6 kilometer (km) yang menghubungkan Stasiun Velodrome dengan Stasiun Pramuka.
Baca juga: Proyek LRT Velodrome-Manggarai On Track, Apartemen Ini Makin Diburu
Selama pengujian tersebut, salah satu area yang dilintasi adalah jalur di atas tol aktif Wiyoto Wiyono pada KM 1+700 hingga KM 2+100.
Untuk menjaga agar lalu lintas di jalan tol tidak terganggu selama masa konstruksi, Waskita menggunakan metode balanced cantilever dengan bentang atau span sepanjang 120 meter (m).
"Keselamatan konstruksi, baik dalam pengamanan konstruksi balance cantilever maupun pengguna jalan, harus diutamakan," tegas Ermy.
Ia menambahkan, monitoring survey dan camber juga dilakukan secara berkala setiap hari. Tim di lapangan turut memasang safety net di sekeliling segmen girder balanced cantilever.
Baca juga: Kendaraan Mogok di Jalan Tol? Ini Prosedur Aman Menurut Pakar Safety
Berkat sejumlah langkah tersebut, perseroan berhasil mencapai zero accident atau tidak ada kecelakaan sama sekali dalam proses konstruksi balance cantilever LRT Jakarta 1B.
Kini, Waskita terus mempercepat pengerjaan proyek senilai Rp 4,1 triliun tersebut agar dapat segera digunakan masyarakat. Adapun realisasi pembangunan LRT Jakarta Fase 1B telah mencapai 93,37 persen.
Ermy menyampaikan, koordinasi dengan Jakpro terus diperkuat agar proses pembangunan serta rangkaian testing and commissioning (T&C) dapat berjalan lancar.
Tahapan tersebut dinilai penting untuk memastikan kesiapan sistem LRT Jakarta dalam melayani puluhan ribu penumpang setiap hari.
Baca juga: Waskita Karya Kebut Pembangunan LRT Jakarta Fase 1B, Tes Jalur Lintasan Berjalan Lancar
"Kerja sama yang baik dengan Jakpro sebagai owner membuat train run yang sudah dilakukan dua kali berlangsung tanpa hambatan. Seperti prinsip Jakpro yang selalu mengutamakan keberlanjutan dalam setiap proyeksinya, train run ini juga akan menjadi evaluasi internal guna mempersiapkan langkah pengujian selanjutnya," tutur Ermy.
Menurut Ermy, LRT Jakarta Fase 1B sudah sangat dinantikan masyarakat.
Selain dapat mengurangi kepadatan lalu lintas, proyek tersebut juga akan memperkuat konektivitas antarwilayah dan integrasi transportasi publik di kota metropolitan.
"Kami optimistis kehadiran LRT Jakarta Fase 1B akan menambah pilihan transportasi publik yang modern. Lalu, memudahkan mobilitas warga serta mendorong peralihan dari kendaraan pribadi ke transportasi umum," jelas Ermy.