KRL Jabodetabek Diprediksi Tembus 437 Juta Penumpang pada 2030, KAI Perkuat Sarana dan Prasarana

Kompas.com - 12/02/2026, 14:16 WIB
Tsabita Naja,
DWN

Tim Redaksi

KOMPAS.com - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI memproyeksikan volume penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek) akan meningkat dari realisasi sekitar 339 juta penumpang pada 2025 menjadi 437 juta penumpang pada 2030. 

Dengan tren pertumbuhan rata-rata sekitar 4 persen per tahun, volume harian KRL Jabodetabek diperkirakan dapat mencapai sekitar 2 juta penumpang pada 2030.

Pernyataan tersebut disampaikan Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Baca juga: Alasan Dirut KAI Batalkan 82 Perjalanan Kereta: Keselamatan Nomor Satu

Bobby mengungkapkan, KRL melayani lebih dari satu juta masyarakat Jabodetabek setiap hari. Hal ini membuat peran KRL tidak hanya sebagai layanan transportasi, tetapi juga infrastruktur produktivitas kota dan penggerak utama aktivitas ekonomi kawasan aglomerasi Jabodetabek.

Pasalnya, KRL merupakan moda transportasi massal yang efisien dan berdaya angkut tinggi untuk mendukung produktivitas kawasan Jabodetabek secara berkelanjutan.

Mengingat peran KRL sebagai tulang punggung mobilitas kawasan aglomerasi Jakarta, KAI berkomitmen memperkuat sarana dan prasarana KRL untuk memastikan kapasitas dan keselamatan layanan tetap terjaga.

"Penguatan layanan KRL merupakan kebutuhan struktural dalam mendukung pertumbuhan aglomerasi,” ujar Bobby dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (12/2/2026).

Baca juga: Jadwal KRL Solo–Jogja PP saat Libur Imlek 2026, Ada Tambahan Perjalanan

Pengadaan sarana dan modernisasi prasarana

Untuk mengantisipasi pertumbuhan mobilitas yang terus meningkat, KAI menjalankan penguatan sarana melalui dukungan negara dan investasi korporasi.

Saat ini, KAI mengoperasikan 11 trainset KRL baru produksi China Railway Rolling Stock Corporation (CRRC) serta 4 trainset produksi PT INKA (Persero).

Kehadiran rangkaian baru tersebut memperkuat kapasitas angkut di koridor-koridor padat Jabodetabek sekaligus mendukung peningkatan keandalan operasional.

Selain itu, KAI juga telah menandatangani kontrak pengadaan 16 trainset atau 192 unit KRL produksi PT INKA senilai Rp3,85 triliun. Dari jumlah ini, 11 rangkaian ditargetkan mulai beroperasi pada 2026 sebagai bagian dari program percepatan regenerasi sarana.

Baca juga: Kemenhub dan KAI Bahas Pengadaan Kereta untuk Reaktivasi Jalur di Stasiun Labuan Banten

“Kami memastikan pengadaan sarana dilakukan melalui berbagai pendekatan pendanaan, baik dukungan pemerintah maupun investasi perusahaan, agar kapasitas layanan terus bertumbuh sejalan dengan kebutuhan mobilitas urban,” jelas Bobby.

Secara keseluruhan, kini KAI mengoperasikan 1.088 unit KRL yang sebagian besar telah berusia di atas 30 tahun dan akan memasuki masa konservasi secara bertahap.

Oleh karena itu, regenerasi sarana menjadi langkah strategis untuk menjaga keselamatan, kenyamanan, dan keberlanjutan layanan.

Selain pengadaan sarana, KAI juga terus mendorong modernisasi prasarana untuk memastikan sistem transportasi siap menghadapi pertumbuhan penumpang jangka panjang.

Baca juga: Napas Terakhir Bus Pusaka: Bertahan di Tengah Modernisasi dan Integrasi Transportasi

Sejumlah upaya yang telah dilakukan KAI, antara lain modernisasi prasarana menuju lintas Rangkasbitung, penguatan kapasitas kelistrikan di lintas padat seperti Manggarai–Bogor dan Manggarai–Bekasi, pembaruan sistem operasi untuk meningkatkan ketepatan waktu dan frekuensi perjalanan, serta penguatan integrasi layanan di simpul utama transportasi urban.

KAI juga konsisten menambah elektrifikasi lintas KRL yang kini telah mencapai 474,942 kilometer (km) sejak 2017-2018. Jalur ini mencakup lintas Bogor, Bekasi, Serpong, Tangerang, dan Tanjung Priok.

“Sarana baru harus ditopang sistem kelistrikan, persinyalan, dan stasiun yang siap menghadapi pertumbuhan penumpang. Modernisasi prasarana menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas dan kualitas layanan,” tegas Bobby.

Baca juga: Eksistensi Perahu Eretan di Kali Gendong Jakut, Bertahan di Tengah Modernisasi Transportasi

Dukungan pemerintah pusat

Upaya penguatan layanan KRL Jabodetabek mendapat dukungan dari pemerintah pusat melalui alokasi pendanaan hingga Rp 5 triliun. Komitmen ini disampaikan oleh Presiden RI Prabowo Subianto dalam peresmian Stasiun Tanah Abang Baru di Jakarta, Selasa (4/11/2026).

Dukungan tersebut diarahkan untuk penambahan rangkaian, peningkatan kapasitas layanan, serta penguatan sistem operasional pada jalur-jalur utama.

“Kami melihat dukungan ini sebagai komitmen kuat negara dalam memperkuat transportasi publik. Targetnya adalah kapasitas meningkat, kepadatan berkurang, dan masyarakat memperoleh layanan yang semakin andal,” kata Bobby.

Baca juga: Penumpang Transportasi Publik Jakarta Melonjak di 2025, Mana yang Terbanyak?

Terkini Lainnya
Tindaklanjuti Arahan Prabowo untuk Menata Kawasan Rel, Ini 3 Langkah KAI 

Tindaklanjuti Arahan Prabowo untuk Menata Kawasan Rel, Ini 3 Langkah KAI 

Kereta Api Indonesia
Dirut KAI Tinjau Layanan Lebaran di Sumatra Utara, Pastikan Perjalanan Pelanggan Tetap Lancar dan Nyaman

Dirut KAI Tinjau Layanan Lebaran di Sumatra Utara, Pastikan Perjalanan Pelanggan Tetap Lancar dan Nyaman

Kereta Api Indonesia
Tinggi Peminat, Kereta Ekonomi Kerakyatan Layani 7.951 Pelanggan di Awal Angkutan Lebaran

Tinggi Peminat, Kereta Ekonomi Kerakyatan Layani 7.951 Pelanggan di Awal Angkutan Lebaran

Kereta Api Indonesia
Berbagi Kehangatan Selama Ramadhan, LRT Jabodebek Siapkan 3.150 Paket Takjil untuk Pengguna

Berbagi Kehangatan Selama Ramadhan, LRT Jabodebek Siapkan 3.150 Paket Takjil untuk Pengguna

Kereta Api Indonesia
Jalur Rel Jadi Andalan Distribusi, KAI Angkut 42.405 Ton Barang pada Awal 2026

Jalur Rel Jadi Andalan Distribusi, KAI Angkut 42.405 Ton Barang pada Awal 2026

Kereta Api Indonesia
KAI Hadirkan Kereta Ekonomi Kerakyatan untuk Dukung Arus Mudik, Tiket Dijual Mulai 25 Februari 2026

KAI Hadirkan Kereta Ekonomi Kerakyatan untuk Dukung Arus Mudik, Tiket Dijual Mulai 25 Februari 2026

Kereta Api Indonesia
Hampir 8 Jam Pemulihan, Lintas Rawabuaya–Batuceper Kembali Dibuka Bertahap

Hampir 8 Jam Pemulihan, Lintas Rawabuaya–Batuceper Kembali Dibuka Bertahap

Kereta Api Indonesia
Imbas Insiden di Poris–Batu Ceper, Layanan KA Bandara Dihentikan Sementara

Imbas Insiden di Poris–Batu Ceper, Layanan KA Bandara Dihentikan Sementara

Kereta Api Indonesia
Kereta Petani dan Pedagang Jadi Andalan 11.428 Pengguna di Jalur Merak

Kereta Petani dan Pedagang Jadi Andalan 11.428 Pengguna di Jalur Merak

Kereta Api Indonesia
KAI Hadirkan Kereta Premium Bernuansa

KAI Hadirkan Kereta Premium Bernuansa "Heritage", Siap Diuji Coba 2026

Kereta Api Indonesia
Menghidupkan Jalur Tertua Nusantara, Visi Strategis KAI dalam Reaktivasi Kedungjati–Tanggung

Menghidupkan Jalur Tertua Nusantara, Visi Strategis KAI dalam Reaktivasi Kedungjati–Tanggung

Kereta Api Indonesia
KRL Jabodetabek Diprediksi Tembus 437 Juta Penumpang pada 2030, KAI Perkuat Sarana dan Prasarana

KRL Jabodetabek Diprediksi Tembus 437 Juta Penumpang pada 2030, KAI Perkuat Sarana dan Prasarana

Kereta Api Indonesia
Hadapi Angkutan Lebaran 2026, KAI Gelar KLB Lintas Selatan

Hadapi Angkutan Lebaran 2026, KAI Gelar KLB Lintas Selatan

Kereta Api Indonesia
Angkutan Lebaran 2026, KAI Siapkan Kapasitas dan Dukung Diskon Tarif 30 Persen

Angkutan Lebaran 2026, KAI Siapkan Kapasitas dan Dukung Diskon Tarif 30 Persen

Kereta Api Indonesia
Amankan Jalur Utara, KAI Gelar Inspeksi Pastikan Kesiapan Mudik Lebaran 2026

Amankan Jalur Utara, KAI Gelar Inspeksi Pastikan Kesiapan Mudik Lebaran 2026

Kereta Api Indonesia
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com