Dari Commuter Line hingga Whoosh, KAI Layani 333 Juta Penumpang dan Bantu Turunkan Polusi Jabodetabek

Kompas.com - 07/12/2024, 13:59 WIB
ADW,
Mikhael Gewati

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Sebanyak 333.371.342 penumpang telah menggunakan layanan transportasi kereta api di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi ( Jabodetabek) sepanjang Januari hingga November 2024.

Capaian itu mencerminkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap moda transportasi massal yang ramah lingkungan, efisien, dan berkelanjutan yang dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia ( KAI) Group.

Dari 333.371.342 penumpang, Vice President Public Relations KAI Anne Purba merinci, Commuter Line menjadi pilihan utama masyarakat dengan jumlah 299.329.042 penumpang.

Sementara itu, layanan kereta jarak jauh dan lokal yang dioperasikan KAI Daerah Operasi 1 Jakarta melayani 9.714.046 penumpang.

Kemudian, LRT Jabodebek juga menjadi pilihan 18.891.719 penumpang sebagai solusi transportasi modern untuk mobilitas harian mereka.

Baca juga: Pastikan Kenyamanan Penumpang Selama Nataru 2024/2025, KAI Siapkan Inisiatif Terbaru 

“Selain itu, layanan Whoosh yang dikelola KCIC (Kereta Cepat Indonesia China) telah melayani 5.436.535 penumpang. Hal ini menandakan antusiasme masyarakat terhadap moda transportasi berkecepatan tinggi yang hadir pertama di Indonesia," kata Anne dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Sabtu (712/2024).

Tingginya angka penggunaan transportasi kereta api itu pun berkontribusi signifikan dalam mengurangi emisi karbon dan polusi udara di kawasan Jabodetabek.

Dalam beberapa hari terakhir, kualitas udara di wilayah ini bahkan mencapai level "bersih dan segar" dengan tingkat PM2.5 (partikel halus berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer) di Jakarta turun hingga di bawah angka 10. Angka ini sebanding dengan kota-kota terbersih di dunia.

Adapun Situs IQAir pada Sabtu pagi mencatat Air Quality Index (AQI) Jakarta berada di angka 69 atau kategori "sedang".

Baca juga: Dorong Inovasi dan Transformasi, Dirut KAI Diganjar 2 Penghargaan

Anne menjelaskan, perbaikan kualitas udara tidak hanya bergantung pada fenomena alam, tetapi juga peran aktif masyarakat dalam mendukung transportasi berkelanjutan.

Hal itu terlihat dari meningkatnya penggunaan moda transportasi kereta api yang berkontribusi signifikan dalam mengurangi emisi karbon dan polusi udara di Jabodetabek.

Ia mengatakan, efisiensi kereta api dalam mengurangi polusi terlihat dari kapasitasnya yang besar. Satu rangkaian kereta api jarak jauh yang terdiri dari 8-14 kereta dapat menampung hingga 1.120 penumpang. Angka ini setara dengan menggantikan 160 mobil atau 560 motor.

Untuk Commuter Line, satu rangkaian yang terdiri dari 8-12 kereta dengan kapasitas maksimal 3.000 penumpang mampu menggantikan penggunaan 428 mobil pribadi dan 1.500 motor.

Baca juga: Dorong Keberlanjutan, KAI Logistik Perkuat Sistem dan Digitalisasi

Kementerian Perhubungan menyampaikan bahwa dalam perjalanan 200 mil, emisi yang dihasilkan mobil atau pesawat 5 kali lipat jika dibandingkan kereta api.

Temuan itu diperkuat oleh penelitian Departemen Bisnis, Energi, dan Strategi Industri Inggris via Our World in Data. Studi itu mengunkapkan bahwa emisi karbon dioksida (CO2) per penumpang per km pada kereta hanya 41 gram, jauh lebih rendah ketimbang sepeda motor (103 gram) dan mobil (192 gram).

Dengan hitungan tersebut, perjalanan kereta api hanya menghasilkan 45.920 gram CO2 per km, sedangkan motor mencapai 115.360 gram CO2 dan mobil 215.040 gram CO2.

Secara total, setiap hari penggunaan kereta api mengurangi sekitar 2.141 ton CO2 dan mencapai sekitar 780.528 ton CO2 dalam satu tahun.

" KAI Group terus berkomitmen untuk mendukung kebiasaan masyarakat beralih ke transportasi massal yang lebih ramah lingkungan. Upaya ini sejalan dengan tujuan kami menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan sekaligus mendukung salah satu pencapaian SDGs di Indonesia," kata Anne.

Baca juga: KAI dan BI Tandatangani Perjanjian Distribusi BBMN Aman dan Ramah Lingkungan

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan, Anne mengatakan, KAI Group optimistis dapat terus berkontribusi mengurangi polusi udara di wilayah perkotaan.

"Terima kasih atas kepercayaan para pengguna kereta api di Jabodetabek. Tidak hanya memilih moda transportasi yang efisien, Anda juga telah berkontribusi secara langsung dalam menciptakan kualitas udara yang jauh lebih baik bagi kita semua," ujar Anne.

Terkini Lainnya
Berbagi Kehangatan Selama Ramadhan, LRT Jabodebek Siapkan 3.150 Paket Takjil untuk Pengguna

Berbagi Kehangatan Selama Ramadhan, LRT Jabodebek Siapkan 3.150 Paket Takjil untuk Pengguna

Kereta Api Indonesia
Jalur Rel Jadi Andalan Distribusi, KAI Angkut 42.405 Ton Barang pada Awal 2026

Jalur Rel Jadi Andalan Distribusi, KAI Angkut 42.405 Ton Barang pada Awal 2026

Kereta Api Indonesia
KAI Hadirkan Kereta Ekonomi Kerakyatan untuk Dukung Arus Mudik, Tiket Dijual Mulai 25 Februari 2026

KAI Hadirkan Kereta Ekonomi Kerakyatan untuk Dukung Arus Mudik, Tiket Dijual Mulai 25 Februari 2026

Kereta Api Indonesia
Hampir 8 Jam Pemulihan, Lintas Rawabuaya–Batuceper Kembali Dibuka Bertahap

Hampir 8 Jam Pemulihan, Lintas Rawabuaya–Batuceper Kembali Dibuka Bertahap

Kereta Api Indonesia
Imbas Insiden di Poris–Batu Ceper, Layanan KA Bandara Dihentikan Sementara

Imbas Insiden di Poris–Batu Ceper, Layanan KA Bandara Dihentikan Sementara

Kereta Api Indonesia
Kereta Petani dan Pedagang Jadi Andalan 11.428 Pengguna di Jalur Merak

Kereta Petani dan Pedagang Jadi Andalan 11.428 Pengguna di Jalur Merak

Kereta Api Indonesia
KAI Hadirkan Kereta Premium Bernuansa

KAI Hadirkan Kereta Premium Bernuansa "Heritage", Siap Diuji Coba 2026

Kereta Api Indonesia
Menghidupkan Jalur Tertua Nusantara, Visi Strategis KAI dalam Reaktivasi Kedungjati–Tanggung

Menghidupkan Jalur Tertua Nusantara, Visi Strategis KAI dalam Reaktivasi Kedungjati–Tanggung

Kereta Api Indonesia
KRL Jabodetabek Diprediksi Tembus 437 Juta Penumpang pada 2030, KAI Perkuat Sarana dan Prasarana

KRL Jabodetabek Diprediksi Tembus 437 Juta Penumpang pada 2030, KAI Perkuat Sarana dan Prasarana

Kereta Api Indonesia
Hadapi Angkutan Lebaran 2026, KAI Gelar KLB Lintas Selatan

Hadapi Angkutan Lebaran 2026, KAI Gelar KLB Lintas Selatan

Kereta Api Indonesia
Angkutan Lebaran 2026, KAI Siapkan Kapasitas dan Dukung Diskon Tarif 30 Persen

Angkutan Lebaran 2026, KAI Siapkan Kapasitas dan Dukung Diskon Tarif 30 Persen

Kereta Api Indonesia
Amankan Jalur Utara, KAI Gelar Inspeksi Pastikan Kesiapan Mudik Lebaran 2026

Amankan Jalur Utara, KAI Gelar Inspeksi Pastikan Kesiapan Mudik Lebaran 2026

Kereta Api Indonesia
Bukan Sekadar Murah, Kereta Api Bersubsidi Jadi Tulang Punggung Mobilitas Masyarakat

Bukan Sekadar Murah, Kereta Api Bersubsidi Jadi Tulang Punggung Mobilitas Masyarakat

Kereta Api Indonesia
KAI Operasikan Stasiun Jatake, Akses Transportasi Wilayah Barat Kian Luas

KAI Operasikan Stasiun Jatake, Akses Transportasi Wilayah Barat Kian Luas

Kereta Api Indonesia
Angkut 47 Juta Penumpang dengan Emisi Terkendali, KAI Buktikan Kereta Api Lebih Ramah Lingkungan

Angkut 47 Juta Penumpang dengan Emisi Terkendali, KAI Buktikan Kereta Api Lebih Ramah Lingkungan

Kereta Api Indonesia
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com