KOMPAS.com - PT Hutama Karya (Persero) mencatat kenaikan pendapatan jalan tol seiring semakin terhubungnya jaringan Jalan Tol Trans Sumatera ( JTTS) yang memperkuat konektivitas nasional.
Sejak mendapat penugasan untuk membangun JTTS, Hutama Karya terus memperluas jaringan tol di Sumatera sekaligus memastikan ruas-ruas yang telah beroperasi dapat memberikan manfaat optimal bagi masyarakat, pengguna jalan, dan keberlanjutan bisnis perusahaan.
Pada periode Lebaran 2026, trafik JTTS, termasuk ruas yang dikelola PT Hutama Marga Waskita (Hamawas), meningkat 69,5 persen dibandingkan kondisi normal.
Angka tersebut juga tumbuh 9,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan trafik itu menjadi salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan kinerja bisnis jalan tol Hutama Karya.
Baca juga: Jalan Tol Hutama Karya Dilintasi 250.000 Kendaraan Per Hari
Direktur Keuangan Hutama Karya Eka Setya Adrianto mengatakan, JTTS dibangun tidak hanya untuk membuka akses, meningkatkan konektivitas, dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat di Sumatera.
Lebih dari itu, JTTS juga hadir untuk menciptakan nilai ekonomi berkelanjutan bagi perusahaan melalui pengelolaan jalan tol yang produktif.
“Dari sisi operasional, kami melihat tren yang semakin positif, baik melalui pertumbuhan trafik, peningkatan pendapatan jalan tol, maupun membaiknya profitabilitas bisnis jalan tol,” ujar Adri dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Selasa (23/6/2026).
Ia mengungkapkan bahwa pengelolaan jalan tol Hutama Karya menunjukkan perkembangan yang semakin solid seiring bertambahnya ruas yang beroperasi, meningkatnya keterhubungan antarwilayah, serta membaiknya kinerja operasional dan keuangan jalan tol.
Baca juga: Hutama Karya Beri Diskon Sewa 50 Persen bagi UMKM di Rest Area JTTS
Hingga saat ini, Hutama Karya telah membangun JTTS sepanjang 1.185 kilometer (km).
Jumlah tersebut terdiri atas 829 km ruas tol operasi dan 356 km ruas tol konstruksi, termasuk jalan tol dukungan konstruksi.
Dari sisi operasional, Hutama Karya mengelola 14 ruas tol di Indonesia. Sebagian besar ruas tersebut merupakan bagian dari JTTS sebagai backbone konektivitas utama di Pulau Sumatera.
Selain itu, Hutama Karya juga mengelola dua ruas tol di Pulau Jawa, yakni Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (JORR) Seksi S dan Tol Akses Tanjung Priok.
Pada 2025, pendapatan jalan tol Hutama Karya, termasuk kontribusi Hamawas, tumbuh sekitar 26,8 persen dibandingkan 2024.
Jika dibandingkan dengan 2023, pendapatan jalan tol meningkat sekitar 35,7 persen. Kontribusinya terhadap pendapatan konsolidasian juga naik menjadi 16,83 persen pada 2025 dari sebelumnya 11,58 persen.
Baca juga: Hutama Karya Raup Laba Rp 3 Triliun, Jalan Tol Jadi Mesin Uang Utama
Salah satu indikator konkret lonjakan trafik terlihat pada Ruas Tol Sigli–Banda Aceh.
Setelah Seksi 1 Padang Tiji–Seulimeum dioperasikan secara fungsional, ruas tersebut mencatatkan peningkatan Lalu Lintas Harian Rata-Rata (LHR) sebesar 229 persen, jauh melampaui Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).
Capaian itu mengonfirmasi bahwa tersambungnya ruas JTTS berbanding lurus dengan meningkatnya minat pengguna jalan.
Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan potensi pertumbuhan trafik yang akan terus berkembang seiring terhubungnya jaringan secara menyeluruh.
Selain revenue, kata Adri, operating income jalan tol juga menunjukkan pertumbuhan signifikan.
Pada 2025, operating income jalan tol meningkat sekitar 9,8 persen dibandingkan 2024 dan menunjukkan penguatan dibandingkan 2023.
Baca juga: Hutama Karya Siap Ikut Bangun Tol Pelabuhan-Lematang
"Dengan capaian tersebut, kontribusi operating income jalan tol terhadap operating income konsolidasian mencapai 39,65 persen pada 2025,” ungkap Adri.
Perbaikan kinerja Hutama Karya juga tecermin dari earnings after tax (EAT) jalan tol yang telah berbalik positif pada 2025. Sebelumnya, EAT jalan tol masih berada di posisi negatif pada 2023 dan 2024.
Hal tersebut menunjukkan bahwa bisnis jalan tol Hutama Karya semakin sehat, didukung dengan meningkatnya maturitas ruas operasi, pertumbuhan trafik, serta optimalisasi pengelolaan operasional.
Capaian itu sekaligus menjadi bukti bahwa ruas-ruas tol yang dikelola Hutama Karya terus menunjukkan proses ramp-up yang baik.
Semakin banyak ruas yang tersambung dan matang secara operasional, semakin besar pula manfaat yang dirasakan pengguna jalan. Di saat yang sama, kontribusinya terhadap kinerja perusahaan juga kian menguat.
Baca juga: Hutama Karya Kebut Perbaikan Tol Binjai–Langsa Usai Banjir Bandang
Selain mendukung kinerja perusahaan, Direktur Operasi III Hutama Karya Iwan Hermawan menyampaikan bahwa manfaat JTTS juga semakin dirasakan langsung oleh masyarakat.
Kehadiran jalan tol telah memangkas waktu tempuh antarwilayah, memperlancar distribusi logistik, membuka akses menuju pusat ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pariwisata, serta mendorong tumbuhnya peluang usaha baru di daerah yang dilalui.
“Bagi masyarakat, JTTS bukan hanya infrastruktur jalan, tetapi penghubung aktivitas dan harapan,” ungkap Iwan.
Menurutnya, jalan tol membantu perjalanan menjadi lebih cepat dan nyaman, membuka ruang ekonomi baru, memperkuat konektivitas antardaerah, serta mendekatkan masyarakat dengan berbagai layanan dan peluang yang sebelumnya membutuhkan waktu lebih panjang untuk dijangkau.
Baca juga: JTTS Sudah Beroperasi 791,85 Kilometer, Tekan Biaya Logistik
Manfaat JTTS juga dirasakan langsung oleh para pengguna jalan yang memanfaatkan ruas tol untuk aktivitas sehari-hari maupun perjalanan antarkota.
Salah satunya Titha Monica Hardi, pengguna JTTS yang rutin melintasi Tol Pekanbaru-Dumai untuk mobilitas harian menuju Duri.
Ia juga menggunakan Tol Pekanbaru-XIII Koto Kampar dan Tol Padang-Sicincin saat melakukan perjalanan pulang kampung ke Padang.
“Keberadaan JTTS sangat membantu mobilitas saya. Untuk aktivitas sehari-hari menuju Duri, tol Pekanbaru–Dumai membuat perjalanan lebih cepat, nyaman, dan tidak melelahkan. Sementara itu, saat pulang kampung ke Padang, perjalanan melalui tol Pekanbaru–XIII Koto Kampar dan Padang–Sicincin terasa jauh lebih efisien dibandingkan sebelumnya,” ungkap Titha.
Ia menyebut, jika ruas tol semakin bertambah, seperti Bukittinggi-Sicincin maupun Pekanbaru menuju Rengat, akses masyarakat akan semakin mudah.
Selain itu, perjalanan antardaerah akan semakin singkat dan mobilitas menuju Sumatera Barat (Sumbar) maupun wilayah lain di Sumatera akan semakin terbantu.
Baca juga: Hati-hati Lintasi Tol Padang-Sicincin, Ada Pemasangan Balok Jembatan
Peningkatan kinerja pengelolaan jalan tol tidak hanya diukur dari aspek keuangan, tetapi juga dari kualitas layanan, keamanan, kenyamanan, serta kemampuan ruas tol dalam mendukung pergerakan masyarakat dan distribusi logistik.
Oleh karena itu, Hutama Karya terus melakukan berbagai upaya peningkatan layanan, mulai dari optimalisasi sarana transaksi, kesiapan petugas layanan lalu lintas, pemanfaatan teknologi Intelligent Traffic System (ITS), hingga penguatan pemantauan melalui command center.
“Ke depan, Hutama Karya akan terus menjaga standar operasional dan pelayanan jalan tol agar semakin andal. Fokus kami tidak hanya membangun dan menyambungkan ruas, tetapi juga memastikan ruas tol yang telah beroperasi mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi pengguna jalan, masyarakat, serta keberlanjutan bisnis perusahaan,” tutur Iwan.
Hutama Karya mengimbau seluruh pengguna jalan untuk selalu berkendara dengan tertib, memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan prima, beristirahat apabila lelah, serta mematuhi rambu dan arahan petugas di lapangan.
Baca juga: Jalan Tol Pekanbaru-Dumai Bergelombang, Hutama Karya: Imbas Kendaraan Overload
Sejalan dengan komitmen Melayani Sepenuh Hati, Hutama Karya akan terus menghadirkan layanan jalan tol yang aman, nyaman, dan responsif.
Hutama Karya juga berkomitmen memperkuat peran JTTS sebagai infrastruktur konektivitas yang mendukung pertumbuhan wilayah.
Pengguna jalan dapat memantau informasi terkini melalui kanal resmi Hutama Karya dan mengunduh aplikasi Mozy untuk memperoleh informasi layanan jalan tol secara lebih mudah dan terintegrasi.