Kurangi Impor BBM, Proyek Bioetanol Lampung Siap Jadi Senjata Baru Energi RI

Kompas.com - 21/04/2026, 15:22 WIB
I Jalaludin S,
Mikhael Gewati

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Pemerintah melalui Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal ( BKPM) terus mendorong pembentukan kesepakatan strategis dalam pengembangan proyek bioetanol di Lampung sebagai bagian dari upaya mempercepat transisi energi nasional. 

Konstruksi proyek yang diharapkan mulai pada kuartal III-2026 ini melibatkan Toyota, PT Pertamina New and Renewable Energy (PNRE), dan Danantara Investment Management.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu mengatakan, pemerintah sudah menjalankan program tersebut sejak satu tahun lalu. 

“Namun, kami memang silent dalam pengembangannya,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com. 

Hal itu dia sampaikan usai memimpin pertemuan dengan CEO Toyota Motor Asia di Jakarta, Senin (20/4/2026).

Todotua mengatakan, saat ini sudah ada koordinasi antara PNRE dengan Japanese Group. Dalam hal ini, Toyota Tsusho ditunjuk sebagai partner.

Baca juga: Bahlil Resmi Terbitkan Aturan Bioetanol-Biodiesel, Ini Timelinenya

“Toyota Tsusho akan didukung mitra teknologi lainnya dari Jepang, seperti RaBIT (konsorsium riset beberapa perusahaan otomotif dan energi Jepang),” paparnya. 

Todotua menjelaskan, pembangunan proyek tersebut dilakukan pertama kali di Lampung karena memiliki suplai feedstock yang kuat, seperti tebu, ubi, sorgum, dan lainnya. 

Selain itu, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM juga melakukan pengawalan sejak akhir 2025 hingga awal 2026 melalui serangkaian langkah konkret.

Langkah-langkah itu, di antaranya koordinasi lintas kementerian/lembaga dan badan usaha milik negara (BUMN), fasilitasi pertemuan dengan mitra teknologi dari Jepang, hingga pendampingan langsung dalam kunjungan lapangan dan identifikasi lokasi proyek.

Tahap dan skala proyek

Proyek pengembangan bioetanol yang tengah dijajaki bersama Toyota, PNRE, dan Danantara Investment Management itu dirancang dalam dua tahap. 

Baca juga: Bisakah Biodiesel dan Bioetanol Indonesia Jadi Solusi Harga BBM Mahal, Imbas Konflik AS-Israel Vs Iran?

Tahap awal (pilot project) ditargetkan berkapasitas 60 kiloliter (kl) per tahun pada kuartal III-2027. Tahap kedua adalah komersial, yakni kapasitas sebesar 60.000 kl per tahun pada kuartal IV-2028. 

Pengembangan itu mengadopsi pendekatan multi-feedstock, antara lain memanfaatkan limbah biomassa kelapa sawit, jagung, dan sorgum yang didukung teknologi generasi kedua (2G) untuk meningkatkan fleksibilitas pasokan sekaligus memastikan keberlanjutan jangka panjang.

Pengembangan itu juga mencakup budidaya sorgum secara bertahap, mulai dari pilot seluas 10 hektar (ha) pada 2026 hingga pengembangan komersial mencapai 6.000 ha pada 2027. Proyek akan berlokasi di Lampung dengan dukungan lahan dari PTPN. 

Di sisi kebijakan, pemerintah telah memperkuat komitmen melalui roadmap mandatori pencampuran bioetanol dalam bahan bakar, yaitu E5 pada 2026–2027, meningkat menjadi E10 pada 2028–2030, hingga menuju E20 dalam jangka panjang.

“Kita mendorong proyek ini dalam rangka untuk mempersiapkan komitmen roadmap mandatori menjadi E10, sehingga negara kita juga siap,” jelas Todotua.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik, Pakar UGM: Biodiesel dan Bioetanol Bisa Jadi Solusi Energi

Menyongsong ketaanan energi

Lebih lanjut, Todotua menjelaskan, ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar masih tinggi, yakni mencapai 61 persen dalam satu dekade terakhir. 

Di sisi lain, volatilitas harga minyak dunia akibat dinamika geopolitik semakin mempertegas urgensi transisi energi.

Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah memfokuskan kebijakan pada tiga pilar utama, yaitu swasembada energi, ketahanan pangan, dan hilirisasi sumber daya alam. 

Indonesia dinilai memiliki keunggulan komparatif kuat, antara lain cadangan nikel terbesar dunia (42 persen), serta posisi sebagai produsen utama kelapa sawit dan kelapa global yang berpotensi menjadi bahan baku bioenergi.

Baca juga: Tekan impor BBM, Pemerintah Fokus Kembangkan Bioetanol Tebu-Singkong

Pemerintah juga mengapresiasi keterlibatan Toyota dalam pengembangan industri baterai kendaraan listrik di Indonesia. 

Namun demikian, peluang kerja sama dinilai masih terbuka luas, khususnya pada pengembangan bioetanol berbasis multi bahan baku.

CEO Toyota Motor Asia Masahiko Maeda mengatakan, pihaknya mengapresiasi diskusi yang konstruktif dan progresif dengan stakeholders terkait untuk mengeksplorasi potensi kolaborasi di ekosistem bioenergi. 

Selain itu, melalui kemitraan strategis dengan Contemporary Amperex Technology Co, Limited (CATL) di Indonesia, Toyota juga ingin memperluas kemampuannya dari perakitan battery pack hingga manufaktur baterai dari sel dan modul baterai. 

“Kolaborasi ini akan memperkuat rantai pasok lokal yang kuat, mendukung pendekatan multi-pathway Toyota menuju netralitas karbon,” ujarnya.

Baca juga: Perjanjian Dagang ART: Indonesia Wajib Impor Bioetanol dari AS

Pertemuan itu menjadi bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah dalam memperkuat kolaborasi internasional guna mendorong investasi berkualitas dan mempercepat transformasi ekonomi Indonesia berbasis hilirisasi dan energi berkelanjutan.

 

 

Terkini Lainnya
Komisaris Utama Pertamina Tinjau Keandalan Pasokan Energi di Nusa Tenggara Timur

Komisaris Utama Pertamina Tinjau Keandalan Pasokan Energi di Nusa Tenggara Timur

Pertamina
Komut Pertamina Tinjau Kesiapan Pasokan Avtur di Bali Jelang Peningkatan Trafik Penerbangan

Komut Pertamina Tinjau Kesiapan Pasokan Avtur di Bali Jelang Peningkatan Trafik Penerbangan

Pertamina
Perluas Pemanfaatan PLTS di Kapal Pengangkut Minyak, Pertamina Pangkas Emisi 79 Ton Karbon per Tahun

Perluas Pemanfaatan PLTS di Kapal Pengangkut Minyak, Pertamina Pangkas Emisi 79 Ton Karbon per Tahun

Pertamina
Perkuat Sinergi Maritim, Kilang Pertamina Balikpapan dan Pertamina Trans Kontinental Jalin Kerja Sama Pengelolaan Infrastruktur

Perkuat Sinergi Maritim, Kilang Pertamina Balikpapan dan Pertamina Trans Kontinental Jalin Kerja Sama Pengelolaan Infrastruktur

Pertamina
PLTGU Jawa Satu Beroperasi Andal dan Terus Dukung Keandalan Sistem Kelistrikan Jawa-Bali

PLTGU Jawa Satu Beroperasi Andal dan Terus Dukung Keandalan Sistem Kelistrikan Jawa-Bali

Pertamina
Perkuat Ketahanan Energi, Wadirut Pertamina Tekankan Urgensi Kolaborasi Lintas Bisnis

Perkuat Ketahanan Energi, Wadirut Pertamina Tekankan Urgensi Kolaborasi Lintas Bisnis

Pertamina
Pertamina dan SLB Perkuat Kolaborasi dalam Teknologi Hulu dan Solusi Rendah Karbon

Pertamina dan SLB Perkuat Kolaborasi dalam Teknologi Hulu dan Solusi Rendah Karbon

Pertamina
Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Pertamina Tanam Pohon dan Perkuat Inovasi Pengelolaan Sampah

Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Pertamina Tanam Pohon dan Perkuat Inovasi Pengelolaan Sampah

Pertamina
Pertamina Akselerasi Transisi Energi lewat Program Dekarbonisasi dan Bisnis Rendah Karbon

Pertamina Akselerasi Transisi Energi lewat Program Dekarbonisasi dan Bisnis Rendah Karbon

Pertamina
Dorong Kemandirian Masyarakat, Pertamina Genjot Program DEB Uma Palak Lestari

Dorong Kemandirian Masyarakat, Pertamina Genjot Program DEB Uma Palak Lestari

Pertamina
Cek Langsung Pelayanan SPBU, Dewan Komisaris Kunjungi Fasilitas dan Layanan di Bali

Cek Langsung Pelayanan SPBU, Dewan Komisaris Kunjungi Fasilitas dan Layanan di Bali

Pertamina
Dewan Komisaris Pertamina Tinjau Keandalan Fasilitas Operasi dan Stabilitas Pasokan Energi di Bali

Dewan Komisaris Pertamina Tinjau Keandalan Fasilitas Operasi dan Stabilitas Pasokan Energi di Bali

Pertamina
Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih

Desa Energi Berdikari Keliki, Wujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Energi Bersih

Pertamina
Maknai Idul Adha, Pertamina Berbagi Lebih dari 4.400 Hewan Kurban

Maknai Idul Adha, Pertamina Berbagi Lebih dari 4.400 Hewan Kurban

Pertamina
Dukung Transisi Energi, Pertamina Perkuat Ekosistem Mobilitas Berkelanjutan di Sektor Darat, Laut, dan Udara

Dukung Transisi Energi, Pertamina Perkuat Ekosistem Mobilitas Berkelanjutan di Sektor Darat, Laut, dan Udara

Pertamina
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com