Dukung Transisi Energi, Pertamina Siap Ekspansi dan Replikasi Proyek Avtur Berbahan Minyak Jelantah

Kompas.com - 27/05/2025, 12:46 WIB
DWN,
Mikhael Gewati

Tim Redaksi

KOMPAS.com – PT Pertamina (Persero) berkomitmen mengembangkan proyek used cooking oil to sustainable aviation fuel ( USAF) atau avtur berbahan minyak jelantah.

Melalui sinergi anak usahanya, yaitu PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) dan PT Pertamina Patra Niaga (PPN), Pertamina mendukung agenda nasional transisi energi.

Selain itu, Pertamina juga mewujudkan strategi pertumbuhan ganda (dual growth strategy), yaitu penguatan bisnis inti dan pengembangan bisnis baru.

Proyek USAF ini menjadi bukti nyata komitmen Pertamina tidak hanya dalam menjaga ketahanan energi nasional, tetapi juga dalam mengembangkan portofolio energi rendah karbon yang berkelanjutan.

Untuk memperkuat komitmen tersebut, Pertamina bersiap melakukan ekspansi dan replikasi proyek USAF.

Baca juga: [KLARIFIKASI] Pertamina Bantah Terjadi Kebakaran di Kilang Cilacap

Proyek yang saat ini sudah dikembangkan di Kilang Cilacap tersebut akan diperluas ke Kilang Dumai dan Kilang Balongan.

Sebagai penanda komitmen tersebut, dilaksanakan penandatanganan komitmen pengembangan proyek USAF di Grha Pertamina, Jakarta, Senin (26/5/2025).

Dalam kesempatan itu, Direktur Utama (Dirut) KPI Taufik Aditiyawarman mengatakan, proyek USAF merupakan inisiatif yang sangat relevan untuk memanfaatkan energi baru dan terbarukan (EBT) yang ramah lingkungan.

Proyek tersebut didukung oleh Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025 dan selaras dengan roadmap dari Kemenko Marves.

Pemerintah mendorong implementasi sustainable aviation fuel (SAF) lebih cepat dari rencana awal, yaitu dari 2027 menjadi 2026.

Baca juga: Warga Depok Keliling Cari Minyak Jelantah demi Dapat Minyak Baru

Melalui proyek itu, KPI akan mengolah minyak jelantah menjadi avtur, kemudian PPN membuka peluang bisnis agar USAF dapat digunakan secara luas dan komersial.

“Sebagai bagian dari Pertamina Group, KPI memiliki mandat besar untuk mendukung agenda tersebut,” ujar Taufik melalui siaran persnya, Selasa (27/5/2025).

Proyek USAF, lanjut dia, adalah bukti nyata bahwa KPI berkomitmen tidak hanya menjaga ketahanan energi nasional, tetapi juga mengembangkan portofolio energi rendah karbon yang berkelanjutan.

Jejak pengembangan SAF 

Taufik mengungkapkan, jejak pengembangan SAF di Pertamina, khususnya KPI dimulai sejak 2020.

Pada tahun itu, KPI melalui Kilang Cilacap berhasil memproduksi Bioavtur J2.4 dari palm kernel oil.

Baca juga: Bioavtur dari Minyak Jelantah Jadi Langkah Indonesia Menuju Energi Ramah Lingkungan

Setahun kemudian, produk tersebut digunakan dalam penerbangan uji coba dengan pesawat CN-235.

Selanjutnya, pada 2023 dilakukan penerbangan komersial Garuda Indonesia rute Jakarta–Solo.

Dua uji coba tersebut membuktikan bahwa bahan bakar aviasi berbasis nabati bukan lagi konsep, melainkan realitas.

Pada 2024, KPI mencanangkan proyek USAF (UCO to SAF) sebagai langkah penting memulai komersialisasi SAF berbahan baku limbah (minyak jelantah) yang bersertifikat sustainability.

Serangkaian aktivitas telah dilaksanakan, antara lain pengembangan teknologi katalis bersama Pertamina Technology Innovation, produksi katalis oleh PT Katalis Sinergi Indonesia, serta sertifikasi sustainability ISCC EU dan CORSIA.

Baca juga: Geger Ayam Goreng Nonhalal di Solo, MES Dorong Pelaku Usaha Segera Sertifikasi Halal

Pada Turn Around Januari 2025, KPI telah melaksanakan penggantian katalis USAF di RU IV dan menandai kesiapan melakukan uji komersial produksi SAF bersertifikat dari minyak jelantah pada awal kuartal III-2025.

Visi menjadi produsen SAF bersertifikat sustainable dan berbahan baku minyak jelantah pertama di Indonesia didukung oleh ekosistem hulu-hilir SAF Pertamina Group.

Ekosistem tersebut melibatkan beberapa subholding, antara lain PPN, Pelita Air, dan Pertamina sebagai koordinator proyek.

Sebagai bukti komitmen terhadap proyek USAF, KPI akan memperluas proyek ini ke kilang lain, seperti Kilang Dumai dan Kilang Balongan.

Langkah itu bertujuan meningkatkan kapasitas dan kapabilitas produksi SAF sekaligus memulai uji coba komersial.

Baca juga: JNE dan Ninja Expres Buka Suara soal Aturan Pos Komersial

Menurut Taufik, proyek USAF tidak hanya memproduksi bahan bakar berkelanjutan, tetapi juga merupakan bagian dari blueprint besar ekosistem circular SAF.

Ekosistem tersebut membangun rantai pasok kuat bersama pelaku pengumpulan UCO, transporter, serta off-taker seperti maskapai dan BUMN aviasi.

“Pada 2028, kami berharap dapat menyaksikan startup Green Refinery Project di Cilacap dengan kapasitas 6 million barrels per stream day (MBSD) yang mengolah bahan baku dari UCO, POME, dan lainnya. Ini akan menjadikan Pertamina pelopor energi hijau,” pungkas Taufik.

Kolaborasi bersejarah bagi Pertamina

Green Refinery Project di Cilacap.DOK. Pertamina Green Refinery Project di Cilacap.

Pada kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas (Plt) Dirut PPN Mars Ega Legowo Putra mengatakan, upaya KPI dan PPN mengembangkan USAF merupakan kolaborasi bersejarah bagi Pertamina dan Indonesia.

Program tersebut tercantum dalam Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto tentang kemandirian energi.

Baca juga: Harkitnas 2025, Momentum Pertamina Wujudkan Kemandirian Energi

Untuk mendukung realisasi proyek USAF, Mars Ega mengatakan bahwa PPN telah menyiapkan alat pengumpulan minyak jelantah di sepuluh SPBU di Jakarta.

Dengan alat itu, PPN menggandeng masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam pengembangan USAF.

Menurut Mars Ega, masyarakat sangat antusias memberikan minyak jelantah sebagai bahan baku utama pembuatan USAF.

“Alat ini masih dalam skala pilot, namun sampai hari ini sudah tercatat sedikitnya 6.042 orang yang secara sukarela menyetorkan minyak jelantah di sepuluh SPBU di Jakarta,” ungkapnya.

Sementara itu, Dirut Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengapresiasi manajemen dan seluruh pejabat Pertamina atas penandatanganan komitmen pengembangan proyek USAF.

Baca juga: Menaker Saksikan Penandatanganan PKB Pertamina dan FSPBB

Menurutnya, proyek USAF adalah jawaban atas tantangan global untuk menjamin ketahanan energi, keterjangkauan harga bagi masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan secara bersamaan.

Meski demikian, Simon mengingatkan agar proyek tersebut tidak hanya berakhir pada seremoni penandatanganan komitmen.

Ia menyatakan pengembangan USAF yang telah dilakukan Pertamina sejak beberapa waktu lalu harus terwujud dan memberikan manfaat bagi banyak pihak.

“Ini adalah prestasi yang sudah diukir Pertamina. Kami harus mewujudkannya sampai terimplementasi dengan baik. Kami juga harus saling berkolaborasi agar Pertamina terus menjadi yang terdepan menyediakan energi yang baik bagi negeri ini,” papar Simon.

Acara penandatanganan komitmen pengembangan proyek USAF turut dihadiri Komisaris Utama Pertamina, Mochamad Iriawan.

Baca juga: Gabung BRICS, RI Komitmen Jalankan Transisi Energi Bersih

Ia mengatakan bahwa transisi energi kini bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan strategis.

Terlebih Indonesia telah menetapkan target Net Zero Emission (NZE) pada 2060. Karena itu, Mochamad Iriawan menyambut baik proyek USAF atau avtur berbahan minyak jelantah.

Menurutnya, SAF bukan hanya proyek semata, melainkan misi besar membangun ekosistem pengolahan energi baru yang ramah lingkungan.

Mochamad Iriawan meminta Pertamina Group membangun kolaborasi internal yang melibatkan seluruh subholding.

Kolaborasi itu diperluas dengan menggandeng sektor lain, seperti pemerintah, maskapai penerbangan, lembaga riset, penyedia bahan baku, hingga mitra internasional.

Baca juga: Kampus Internasional Deakin–Lancaster Beri Beasiswa Penuh untuk Siswa Berprestasi

“SAF harus menjadi solusi berkelanjutan secara menyeluruh dan pastikan Pertamina Group menjadi pemimpin utama di bisnis SAF, baik sebagai produsen maupun market leader di pasar domestik dan global,” pungkas Mochamad Iriawan.

Proyek tersebut, lanjut dia, harus diimplementasikan secara terarah dan konsisten sesuai target yang telah ditetapkan.

Sekilas tentang KPI

Sebagai informasi, KPI merupakan anak perusahaan Pertamina yang menjalankan bisnis utama pengolahan minyak dan petrokimia sesuai prinsip environment, social, and governance (ESG).

KPI juga telah terdaftar dalam United Nations Global Compact (UNGC) dan berkomitmen pada Sepuluh Prinsip Universal (Ten Principles) UNGC dalam strategi operasional sebagai bagian penerapan aspek ESG.

Baca juga: Mengimplementasikan Standar ESG di Industri Nikel Nasional

KPI akan terus menjalankan bisnis secara profesional untuk mewujudkan visi menjadi perusahaan kilang minyak dan petrokimia berkelas dunia yang berwawasan lingkungan, bertanggung jawab sosial, serta memiliki tata kelola perusahaan yang baik.

Terkini Lainnya
Pertamina NRE Resmi Catat Kepemilikan 20 Persen Saham CREC di Bursa Efek Filipina

Pertamina NRE Resmi Catat Kepemilikan 20 Persen Saham CREC di Bursa Efek Filipina

Pertamina
Jakarta Pertamina Enduro Sapu Bersih 2 Laga pada Pekan Keempat Proliga 2026

Jakarta Pertamina Enduro Sapu Bersih 2 Laga pada Pekan Keempat Proliga 2026

Pertamina
Infrastruktur Terintegrasi Pertamina di Indramayu Perkuat Keandalan dan Layanan Energi di Jabar hingga Jakarta

Infrastruktur Terintegrasi Pertamina di Indramayu Perkuat Keandalan dan Layanan Energi di Jabar hingga Jakarta

Pertamina
Mengintip Pengujian Berlapis BBM Pertamina di Integrated Terminal Balongan

Mengintip Pengujian Berlapis BBM Pertamina di Integrated Terminal Balongan

Pertamina
Perkuat Hilirisasi Petrokimia Nasional, Polytama Andalkan Bahan Baku Kilang Pertamina

Perkuat Hilirisasi Petrokimia Nasional, Polytama Andalkan Bahan Baku Kilang Pertamina

Pertamina
Kenal Lebih Dekat Terminal Khusus Kilang Balongan, Penopang Distribusi Energi Indonesia

Kenal Lebih Dekat Terminal Khusus Kilang Balongan, Penopang Distribusi Energi Indonesia

Pertamina
PT Kilang Pertamina Internasional dan PT Garam Perkuat Sinergi Hilirisasi Garam

PT Kilang Pertamina Internasional dan PT Garam Perkuat Sinergi Hilirisasi Garam

Pertamina
Pertamina Gandeng Kementerian ESDM dan Seruni KMP Sediakan Akses Air Bersih di Kampung Tambat, Merauke

Pertamina Gandeng Kementerian ESDM dan Seruni KMP Sediakan Akses Air Bersih di Kampung Tambat, Merauke

Pertamina
Tancap Gas dari Awal 2026, Elnusa Percepat Eksplorasi Migas di Indonesia Timur lewat Teknologi Canggih

Tancap Gas dari Awal 2026, Elnusa Percepat Eksplorasi Migas di Indonesia Timur lewat Teknologi Canggih

Pertamina
Ingin UMKM Naik Kelas? Ini Program Pendampingan Pertamina

Ingin UMKM Naik Kelas? Ini Program Pendampingan Pertamina

Pertamina
Pertamina Salurkan Hibah Teknologi Tepat Guna Rp 900 Juta untuk 100 Pelaku UMK

Pertamina Salurkan Hibah Teknologi Tepat Guna Rp 900 Juta untuk 100 Pelaku UMK

Pertamina
Inovasi Pertadex Kilang Pertamina Raih Penghargaan di IPITEX Thailand 2026

Inovasi Pertadex Kilang Pertamina Raih Penghargaan di IPITEX Thailand 2026

Pertamina
Pertamina Sukses Gelar Satgas Nataru, Siap Hadapi Ramadhan 1447 Hijriah

Pertamina Sukses Gelar Satgas Nataru, Siap Hadapi Ramadhan 1447 Hijriah

Pertamina
Mengenal RDMP Balikpapan, dari Sejarah Sumur Mathilda hingga Jadi Garda Terdepan Energi Indonesia Timur

Mengenal RDMP Balikpapan, dari Sejarah Sumur Mathilda hingga Jadi Garda Terdepan Energi Indonesia Timur

Pertamina
Perkuat Kompetensi SDM, Pertamina Gandeng ITB Siapkan Insinyur Masa Depan

Perkuat Kompetensi SDM, Pertamina Gandeng ITB Siapkan Insinyur Masa Depan

Pertamina
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com