Hari Air Sedunia, KAI Tingkatkan Efisiensi Air dengan Sistem ATWP

Kompas.com - 21/03/2025, 14:45 WIB
DWN,
Mikhael Gewati

Tim Redaksi

KOMPAS.com – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI melakukan berbagai upaya efisiensi penggunaan air sebagai komitmen dalam mendukung pelestarian sumber daya air.

Bertepatan dengan peringatan Hari Air Sedunia yang mengusung tema Glaciers Preservation atau Pelestarian Gletser, KAI terus berinovasi dalam pengelolaan air secara berkelanjutan.

Sebagai bentuk nyata upaya efisiensi air, Vice President (VP) Public Relations KAI, Anne Purba mengatakan, KAI mengadopsi teknologi ramah lingkungan dengan mengimplementasikan sistem automatic train wash plant (ATWP) di Lintas Raya Terpadu (LRT) Jakarta Bogor Depok dan Bekasi (Jabodebek). 

Sistem tersebut memungkinkan pencucian kereta secara otomatis dengan efisiensi tinggi dan penggunaan air yang lebih sedikit.

“ATWP dilengkapi dengan water treatment system yang mengolah air bekas pencucian agar dapat digunakan kembali,” ujar Anne dalam siaran persnya, Jumat (21/3/2025).

Baca juga: Jangan Langsung Dibuang, Ini Manfaat Air Bekas Rebusan Mi Instan

Dengan teknologi itu, lanjut dia, air yang sebelumnya digunakan untuk membersihkan kereta akan disaring untuk memisahkan kotoran, seperti tanah, pasir, oli, dan gemuk. 

Proses tersebut memungkinkan pengurangan konsumsi air baru secara signifikan dan mendukung prinsip daur ulang air secara berkelanjutan.

Selain itu, air yang digunakan untuk pembilasan akhir pada sistem ATWP adalah demineralizing water, yaitu air murni yang bebas dari mineral dan bahan kimia. 

Hal itu tidak hanya menjaga kualitas kebersihan kereta, tetapi juga memastikan dampak lingkungan yang minimal.

Dengan berbagai upaya efisiensi air yang dilakukan, KAI terus berkomitmen untuk mendukung pelestarian sumber daya air. 

Berupaya memimpin keberlanjutan lingkungan

Melalui penerapan teknologi canggih seperti ATWP dan target pengelolaan air yang progresif, KAI berupaya menjadi pelopor dalam menjaga keberlanjutan lingkungan di sektor transportasi massal.

"KAI berkomitmen untuk berperan aktif dalam mendukung upaya pelestarian sumber daya air. Melalui program efisiensi yang terus kami tingkatkan, kami ingin memastikan bahwa sumber daya air dapat terjaga dengan baik untuk generasi mendatang," tutur Anne.

Anne menyatakan bahwa KAI menyadari pentingnya peran air dalam operasional perusahaan serta kehidupan masyarakat secara luas. 

“Oleh karena itu, KAI berkomitmen untuk menjaga efisiensi penggunaan air di seluruh wilayah operasionalnya,” ujarnya.

Sebagai perusahaan transportasi massal yang melayani jutaan penumpang setiap harinya, KAI mencatat penggunaan air bersih terutama untuk kebutuhan domestik seperti toilet, wudhu, dan keperluan sanitasi lainnya. 

Baca juga: Pemerintah Benahi Kawasan Permukiman dan Sanitasi, Segini Dananya

Sebagian besar sumber air yang digunakan berasal dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), sementara pada situasi tertentu digunakan air tanah yang dipompa menggunakan mesin pompa air.

Strategi pengelolaan dan efisiensi air

VP Public Relations KAI, Anne Purba mengatakan, untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air, KAI telah merancang sejumlah target pengelolaan air limbah. 

Pada periode 2024 hingga 2025, KAI menargetkan pengelolaan air limbah di lebih dari 50 persen lokasi operasional. 

“Target tersebut meningkat menjadi lebih dari 75 persen pada 2026 hingga 2028,” imbuh Anne. 

Pada 2028 hingga 2060, lanjut dia, KAI berkomitmen untuk mencapai pengelolaan air limbah di 100 persen lokasi operasional.

Baca juga: Sopir Truk yang Demo Tolak Pembatasan Operasional Angkutan Lebaran Mulai Tiba di Monas

Dalam rangka mencapai target tersebut, KAI menerapkan berbagai langkah strategis, seperti pendataan dan pemasangan flow meter di seluruh wilayah operasional hingga 2028. 

Flow meter itu berfungsi untuk memantau penggunaan air secara akurat sehingga efisiensi dapat diukur dengan jelas.

Selain itu, KAI menargetkan efisiensi penggunaan air lebih dari 5 persen pada periode 2024-2028. Lalu meningkat menjadi lebih dari 10 persen pada 2040-2060, dan di atas 15 persen setelah 2060.

KAI secara transparan mencatat konsumsi airnya untuk terus mengukur efektivitas program efisiensi yang diterapkan. 

Pada 2022, penggunaan air KAI Group tercatat sebesar 782,74 megaliter (ML), terdiri dari 216,91 ML air permukaan, 365,43 ML air tanah, dan 200,41 ML air PDAM. 

Baca juga: Diduga Ada Korupsi di PDAM Wairpuan Sikka, 8 Saksi Diperiksa

Sementara itu, pada 2023, konsumsi air KAI Group mengalami penurunan menjadi 555,76 ML. Rinciannya, yaitu 61,84 ML air permukaan, 358,03 ML air tanah, dan 135,90 ML air PDAM.

Terkini Lainnya
Berbagi Kehangatan Selama Ramadhan, LRT Jabodebek Siapkan 3.150 Paket Takjil untuk Pengguna

Berbagi Kehangatan Selama Ramadhan, LRT Jabodebek Siapkan 3.150 Paket Takjil untuk Pengguna

Kereta Api Indonesia
Jalur Rel Jadi Andalan Distribusi, KAI Angkut 42.405 Ton Barang pada Awal 2026

Jalur Rel Jadi Andalan Distribusi, KAI Angkut 42.405 Ton Barang pada Awal 2026

Kereta Api Indonesia
KAI Hadirkan Kereta Ekonomi Kerakyatan untuk Dukung Arus Mudik, Tiket Dijual Mulai 25 Februari 2026

KAI Hadirkan Kereta Ekonomi Kerakyatan untuk Dukung Arus Mudik, Tiket Dijual Mulai 25 Februari 2026

Kereta Api Indonesia
Hampir 8 Jam Pemulihan, Lintas Rawabuaya–Batuceper Kembali Dibuka Bertahap

Hampir 8 Jam Pemulihan, Lintas Rawabuaya–Batuceper Kembali Dibuka Bertahap

Kereta Api Indonesia
Imbas Insiden di Poris–Batu Ceper, Layanan KA Bandara Dihentikan Sementara

Imbas Insiden di Poris–Batu Ceper, Layanan KA Bandara Dihentikan Sementara

Kereta Api Indonesia
Kereta Petani dan Pedagang Jadi Andalan 11.428 Pengguna di Jalur Merak

Kereta Petani dan Pedagang Jadi Andalan 11.428 Pengguna di Jalur Merak

Kereta Api Indonesia
KAI Hadirkan Kereta Premium Bernuansa

KAI Hadirkan Kereta Premium Bernuansa "Heritage", Siap Diuji Coba 2026

Kereta Api Indonesia
Menghidupkan Jalur Tertua Nusantara, Visi Strategis KAI dalam Reaktivasi Kedungjati–Tanggung

Menghidupkan Jalur Tertua Nusantara, Visi Strategis KAI dalam Reaktivasi Kedungjati–Tanggung

Kereta Api Indonesia
KRL Jabodetabek Diprediksi Tembus 437 Juta Penumpang pada 2030, KAI Perkuat Sarana dan Prasarana

KRL Jabodetabek Diprediksi Tembus 437 Juta Penumpang pada 2030, KAI Perkuat Sarana dan Prasarana

Kereta Api Indonesia
Hadapi Angkutan Lebaran 2026, KAI Gelar KLB Lintas Selatan

Hadapi Angkutan Lebaran 2026, KAI Gelar KLB Lintas Selatan

Kereta Api Indonesia
Angkutan Lebaran 2026, KAI Siapkan Kapasitas dan Dukung Diskon Tarif 30 Persen

Angkutan Lebaran 2026, KAI Siapkan Kapasitas dan Dukung Diskon Tarif 30 Persen

Kereta Api Indonesia
Amankan Jalur Utara, KAI Gelar Inspeksi Pastikan Kesiapan Mudik Lebaran 2026

Amankan Jalur Utara, KAI Gelar Inspeksi Pastikan Kesiapan Mudik Lebaran 2026

Kereta Api Indonesia
Bukan Sekadar Murah, Kereta Api Bersubsidi Jadi Tulang Punggung Mobilitas Masyarakat

Bukan Sekadar Murah, Kereta Api Bersubsidi Jadi Tulang Punggung Mobilitas Masyarakat

Kereta Api Indonesia
KAI Operasikan Stasiun Jatake, Akses Transportasi Wilayah Barat Kian Luas

KAI Operasikan Stasiun Jatake, Akses Transportasi Wilayah Barat Kian Luas

Kereta Api Indonesia
Angkut 47 Juta Penumpang dengan Emisi Terkendali, KAI Buktikan Kereta Api Lebih Ramah Lingkungan

Angkut 47 Juta Penumpang dengan Emisi Terkendali, KAI Buktikan Kereta Api Lebih Ramah Lingkungan

Kereta Api Indonesia
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com