Neraca Dagang Surplus, Arus Logistik Nasional Terus Bergerak

Kompas.com - 22/06/2026, 17:05 WIB
Tsabita Naja,
Mikhael Gewati

Tim Redaksi

KOMPAS.com Arus logistik nasional terus bergerak seiring meningkatnya aktivitas perdagangan Indonesia.

Pergerakan tersebut tercermin dari kinerja ekspor dan impor yang tetap tumbuh, dengan neraca perdagangan nasional mencatatkan surplus senilai 5,64 miliar dollar Amerika Serikat (AS) selama Januari-April 2026.

Capaian itu menjadi sinyal positif bahwa aktivitas produksi, distribusi, dan perdagangan nasional masih berjalan di tengah dinamika ekonomi global.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia pada periode Januari–April 2026 mencapai 92,15 miliar dollar AS atau tumbuh 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor nonmigas menjadi penopang utama dengan nilai 87,74 miliar dollar AS.

Baca juga: Surplus Neraca Perdagangan RI Capai 71 Bulan Beruntun, Ditopang Ekspor Nonmigas

Kinerja tersebut tidak terlepas dari kontribusi sektor industri pengolahan yang terus menjadi tulang punggung ekspor Indonesia. Selama Januari-April 2026, BPS mencatat sektor industri pengolahan memberikan kontribusi ekspor senilai 75,57 miliar dollar AS.

Tiongkok masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar selama Januari–April 2026 senilai 22,76 miliar dollar AS, disusul AS 10,17 miliar dollar AS, dan India 6,14 miliar dollar AS.

Sementara itu, ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa (27 negara) masing-masing sebesar 17,70 miliar dollar AS dan 6 miliar dollar AS.

Adapun Provinsi Jawa Tengah (Jateng) turut berkontribusi terhadap kinerja ekspor nasional dengan nilai mencapai 4,5 miliar dollar AS pada periode Januari–April 2026.

Baca juga: Pemerintah Pastikan ART Indonesia–AS Perkuat Ekspor Nasional dan Tetap dalam Koridor Kedaulatan Negara

Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jateng Ade Siti Muksodah mengatakan, sejumlah komoditas menjadi andalan ekspor daerah, antara lain produk kayu dan turunannya dari wilayah Temanggung serta Wonosobo, produk rajut, hingga gula aren atau brown sugar.

Namun, aktivitas ekspor masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kenaikan biaya logistik hingga tingginya ketergantungan industri terhadap bahan baku impor. Kondisi tersebut turut berdampak terhadap biaya produksi dan daya saing produk ekspor.

"Sekitar 70 persen bahan baku kita masih impor dari China dan beberapa negara lainnya di Asia Timur. Beberapa bahan baku plastik itu naik yang otomatis memengaruhi perdagangan ekspor di negara kita," ujar Ade dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Senin (22/6/2026).

Ia menilai, peningkatan kapasitas dan layanan logistik di Pelabuhan Tanjung Emas menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung aktivitas ekspor.

Baca juga: Kapal Kargo Antre Seminggu di Tanjung Emas, Sekmenko Bahas Solusi

Pembenahan fasilitas serta penambahan peralatan operasional, khususnya untuk mendukung proses bongkar muat dan pengelolaan peti kemas, dinilai mampu memperlancar arus distribusi barang.

"Peran Pelabuhan Tanjung Emas sangat signifikan. Perputaran ekonomi dan logistik berawal dari pelabuhan. Jalur paling mudah dan mendasar untuk ekspor dan impor melalui jalur laut," ungkap Ade.

Menurutnya, dibutuhkan pula penguatan iklim usaha untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus memperluas akses pasar ekspor.

Pelaku usaha juga masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama tingginya biaya logistik yang menjadi salah satu faktor penghambat daya saing ekspor.

Selain itu, dinamika geopolitik global, kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE), serta perubahan kebijakan perpajakan turut menjadi perhatian pelaku industri karena dapat mempengaruhi perencanaan bisnis dan aktivitas perdagangan.

Baca juga: Eksportir Hitung Ulang Biaya Logistik dan Produksi Imbas Pelemahan Rupiah

Arus peti kemas internasional meningkat

Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas Widyaswendra mengatakan bahwa terjadi peningkatan arus peti kemas internasional di Terminal Peti Kemas (TPK) Semarang.

Pada periode Januari hingga Mei 2026, tercatat sebanyak 382.093 twenty foot equivalent unit (TEUs) atau meningkat 12,2 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 340.535 TEUs.

Dari jumlah tersebut, 192.829 TEUs merupakan peti kemas impor dan 189.162 TEUs peti kemas ekspor.

"Arus peti kemas impor di TPK Semarang sendiri tumbuh 10,7 persen, sementara peti kemas ekspor tumbuh 13,72 persen dari tahun sebelumnya," tutur Widyaswendra.

Baca juga: Arus Peti Kemas Pelindo Tembus 6,42 Juta TEUs, Naik 7 Persen hingga April 2026

Ia menyebut, arus peti kemas di TPK Semarang terus tumbuh seiring perkembangan industri di Jateng.

Perseroan mencatat arus peti kemas yang melalui TPK Semarang pada 2023 sebanyak 781.841 TEUs, meningkat menjadi 895.904 pada 2024, dan tercatat lebih dari 1 juta TEUs pada 2025.

Merespons pertumbuhan tersebut, Pelindo menyiapkan sejumlah langkah, baik jangka pendek maupun jangka panjang, seperti penambahan tambatan dermaga sepanjang 275 meter, lapangan penumpukan, serta empat unit alat bongkar muat jenis quay container crane (QCC).

"Saat ini, empat unit alat baru tersebut (QCC) dalam tahap commissioning and testing untuk memastikan segala aspek, baik secara operasional dan safety, dapat terpenuhi. Kami menargetkan alat tersebut dapat segera beroperasi untuk melayani pelanggan," jelas Widyaswendra.

Baca juga: Industri Jateng Melonjak, Pelindo Tambah Alat Bongkar Muat di TPK Semarang

Beberapa komoditas ekspor yang melalui TPK Semarang, antara lain produk dari kayu, pakaian, alas kaki, produk olahan laut, seperti ikan, krustasea, dan moluska, dan beberapa komoditas lainnya.

Adapun untuk produk impor meliputi mesin industri, peralatan mesin listrik, serta kendaraan dan bagiannya.

Logistik dan teknologi menjadi kunci

Pengusaha garmen asal Semarang Deddy Mulyadi mengatakan, Pelabuhan Tanjung Emas berperan penting dalam mendukung aktivitas ekspor produknya ke sejumlah pasar internasional, seperti AS, Eropa, dan Asia.

Meski demikian, ia menilai bahwa kapasitas dan layanan pelabuhan masih perlu terus ditingkatkan agar mampu mengimbangi pertumbuhan kawasan industri serta peningkatan volume distribusi barang.

Pasalnya, kepadatan arus logistik terkadang memicu antrean kapal yang berdampak pada jadwal pengiriman produk ke pasar global.

Baca juga: Produktivitas Pelabuhan Banten Naik, Arus Logistik Makin Cepat

"Tanjung Emas memang membantu aktivitas ekspor, tetapi ritme pergerakan barang belum secepat pelabuhan besar, seperti Jakarta atau Surabaya. Kadang masih ada antrean kapal," ujarnya.

Deddy berharap, pengembangan infrastruktur pelabuhan dapat terus dilakukan, termasuk peningkatan konektivitas transportasi menuju kawasan pelabuhan.

Menurutnya, kelancaran akses distribusi menjadi faktor penting untuk menjaga efisiensi logistik sekaligus memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global.

Pakar ekonomi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Bhimo Rizky Samudro menilai, surplus perdagangan yang terus berlanjut menunjukkan produk Indonesia masih memiliki daya saing yang baik di pasar internasional.

Baca juga: Hilirisasi Jadi Penopang, Surplus Perdagangan RI Bertahan 70 Bulan

Capaian tersebut tidak terlepas dari peran sektor industri pengolahan yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor nasional.

" Surplus perdagangan merupakan sinyal yang baik karena menunjukkan produk Indonesia masih memiliki daya saing di pasar internasional. Ini juga mencerminkan sektor industri pengolahan kita tetap mampu menjadi penggerak ekspor nasional," kata Bhimo.

Pertumbuhan ekspor menunjukkan bahwa industri manufaktur masih mampu menjaga produktivitas dan daya saing di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Namun, ketergantungan terhadap bahan baku impor masih menjadi tantangan karena dapat membatasi nilai tambah industri nasional.

Baca juga: Menko PM Cak Imin: Jangan Gunakan Bahan Impor untuk Produksi MBG

Di sisi lain, meningkatnya impor bahan baku dan barang modal mencerminkan aktivitas produksi serta investasi industri dalam negeri masih terus berjalan.

Bhimo menekankan bahwa masa depan perdagangan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kemampuan industri menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga efisiensi sistem logistik nasional.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan konektivitas distribusi yang mampu menghubungkan pusat produksi dengan pasar domestik maupun global secara cepat dan efisien.

"Pelabuhan peti kemas merupakan infrastruktur strategis bagi perdagangan Indonesia. Ketika pelabuhan bekerja secara efisien, distribusi barang menjadi lebih cepat dan daya saing produk nasional juga meningkat," jelasnya Bhimo.

Baca juga: Pemkot Ambon Perluas Pelabuhan Peti Kemas, Gandeng PT Pelindo

Penguatan logistik tidak hanya dilakukan melalui pembangunan infrastruktur, tetapi juga transformasi digital untuk mempercepat distribusi, meningkatkan akurasi layanan, dan menekan biaya operasional.

Pengembangan teknologi pendukung juga diperlukan untuk menjaga kualitas produk hingga sampai ke pasar tujuan.

Surplus perdagangan yang berkelanjutan memang menjadi sinyal positif bagi ekonomi nasional. Namun, menjaga momentum tersebut membutuhkan penguatan sektor industri, perdagangan, serta logistik melalui peningkatan kapasitas pelabuhan, efisiensi distribusi, dan pemanfaatan teknologi.

Dengan posisi strategis di jalur perdagangan dunia dan didukung pasar domestik yang besar, Indonesia memiliki peluang memperkuat peran sebagai pusat perdagangan dan logistik kawasan Asia.

Sebab, pertumbuhan industri, peningkatan ekspor, serta sistem logistik yang semakin efisien akan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Baca juga: Macet Priok dan Pentingnya Evaluasi Menyeluruh Sistem Logistik Nasional

Terkini Lainnya
Neraca Dagang Surplus, Arus Logistik Nasional Terus Bergerak

Neraca Dagang Surplus, Arus Logistik Nasional Terus Bergerak

Pelindo
RUPS 2025: Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp 7,81 Triliun kepada Negara

RUPS 2025: Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp 7,81 Triliun kepada Negara

Pelindo
Pelindo Petikemas Setor Rp 1,73 Triliun ke Negara Sepanjang 2025

Pelindo Petikemas Setor Rp 1,73 Triliun ke Negara Sepanjang 2025

Pelindo
Di Tengah Gejolak Global, 10 TPK Pelindo Sukses Lampaui Target Kuartal I

Di Tengah Gejolak Global, 10 TPK Pelindo Sukses Lampaui Target Kuartal I

Pelindo
Pelindo Pastikan Layanan Pelabuhan Beroperasi Penuh Selama Angkutan Lebaran 2026

Pelindo Pastikan Layanan Pelabuhan Beroperasi Penuh Selama Angkutan Lebaran 2026

Pelindo
Arus Logistik Jelang Lebaran Meningkat, Pelindo Antisipasi Kepadatan di Pelabuhan

Arus Logistik Jelang Lebaran Meningkat, Pelindo Antisipasi Kepadatan di Pelabuhan

Pelindo
Angkutan Lebaran Diprediksi Naik, Pelindo Siapkan 63 Terminal untuk Layani Pemudik

Angkutan Lebaran Diprediksi Naik, Pelindo Siapkan 63 Terminal untuk Layani Pemudik

Pelindo
Kolaborasi Pemprov DKI Jakarta, Pelindo, dan Kemenhub Kembangkan Kawasan Pesisir dan Pelabuhan Laut

Kolaborasi Pemprov DKI Jakarta, Pelindo, dan Kemenhub Kembangkan Kawasan Pesisir dan Pelabuhan Laut

Pelindo
Buruh Sampaikan Aspirasi, SPTP Pastikan Terminal Peti Kemas Bagendang Tetap Beroperasi Normal

Buruh Sampaikan Aspirasi, SPTP Pastikan Terminal Peti Kemas Bagendang Tetap Beroperasi Normal

Pelindo
Perkuat Sistem Keamanan Terhadap Serangan Siber, Pelindo Gelar Pelatihan dan Exercise Live ISPS Code

Perkuat Sistem Keamanan Terhadap Serangan Siber, Pelindo Gelar Pelatihan dan Exercise Live ISPS Code

Pelindo
Tangani Krisis Sampah, Pelindo Terminal Petikemas Gandeng ULM Berdayakan Masyarakat

Tangani Krisis Sampah, Pelindo Terminal Petikemas Gandeng ULM Berdayakan Masyarakat

Pelindo
Pelindo Terminal Petikemas Dukung Program Prioritas Jateng, Tanam 50.000 Bibit Mangrove

Pelindo Terminal Petikemas Dukung Program Prioritas Jateng, Tanam 50.000 Bibit Mangrove

Pelindo
Pelindo Raih Juara Umum Lomba Olahraga Harhubnas Kemenhub 2025

Pelindo Raih Juara Umum Lomba Olahraga Harhubnas Kemenhub 2025

Pelindo
Pelindo Kembali Masuk Daftar Fortune Indonesia 100

Pelindo Kembali Masuk Daftar Fortune Indonesia 100

Pelindo
Program Pelita Warna, Upaya Pelindo Petikemas Berdayakan Perempuan di Lapas Malang

Program Pelita Warna, Upaya Pelindo Petikemas Berdayakan Perempuan di Lapas Malang

Pelindo
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com