KOMPAS.com – Di tengah situasi geopolitik global dan volatilitas harga energi dunia, PT Pertamina (Persero) terus melanjutkan transformasi untuk memperkuat perannya sebagai badan usaha milik negara (BUMN) energi.
Upaya itu dilakukan dalam menjaga ketahanan energi nasional dengan mengintegrasikan bisnis hilir ke dalam satu entitas terpadu.
Salah satu upaya itu diwujudkan melalui penyatuan subholding yang bergerak di sektor hilir, yaitu PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan segmen bisnis PT Pertamina International Shipping (PIS).
Ketiga anak perusahaan itu bergabung (merger) untuk menjadi subholding downstream.
Saat ini, PPN menjadi entitas penerima penggabungan. Penggabungan ini dilakukan melalui proses evaluasi yang mendalam termasuk melalui tahapan benchmarking terhadap perusahaan oil company sejenis lainnya.
Baca juga: Pertamina Temukan Upaya Pencurian Minyak Mentah di Sumatera Selatan
Penyatuan itu akan menciptakan ekosistem bisnis yang berkesinambungan, mengintegrasikan proses pengolahan bahan bakar di kilang, distribusi energi ke seluruh wilayah Indonesia, hingga pemasaran produk yang memenuhi kebutuhan masyarakat.
Dengan terintegrasinya rantai pasok hilir, Pertamina memastikan ketersediaan energi (availability) yang lebih andal, aksesibilitas (accessibility) yang menjangkau seluruh pelosok negeri, produk energi yang memenuhi kebutuhan masyarakat dan lingkungan (acceptability), serta harga yang kompetitif (affordability).
Selain itu, integrasi tersebut mempercepat transisi energi melalui pengembangan portofolio bahan bakar rendah karbon (sustainability).
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengungkapkan, integrasi itu bertujuan meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat kepastian pasokan energi nasional, serta meningkatkan daya saing perusahaan.
Dengan sistem yang terintegrasi, koordinasi antarfungsi berjalan lebih cepat, pengambilan keputusan lebih efektif, dan investasi yang lebih optimal.
Baca juga: Dongkrak Produksi Migas, Pertamina EP Pangkalan Susu Bor Sumur Baru
“Di tengah perubahan geopolitik, tuntutan transisi energi, dan persaingan global yang semakin ketat. Indonesia membutuhkan Pertamina yang lincah, kuat, dan terintegrasi,” kata Simon dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (5/2/2026).
Dia mengatakan, ketika kilang, distribusi, dan logistik serta pemasaran bekerja sebagai satu sistem, perusahaan dapat menghilangkan redundansi, mempercepat layanan, dan menghadirkan pasokan energi yang andal dari Sabang sampai Merauke.
Melalui subholding downstream, Pertamina menargetkan transformasi dalam lini bisnisnya, khususnya yang terkait dengan peningkatan pelayanan ke masyarakat.
Integrasi yang dilakukan tidak akan mengganggu pelayanan terhadap masyarakat maupun terhadap mitra bisnis dan pekerja.
Sebaliknya, integrasi itu menargetkan penyediaan energi yang semakin amdal untuk masyarakat melalui peningkatan kolaborasi lintas divisi serta memberikan dampak yang lebih besar bagi bangsa dan generasi mendatang dengan semangat Energizing Indonesia.
Baca juga: Dugaan Minyak Rusia Masuk RI, Pertamina Tegaskan Impor Sesuai Aturan
Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menyatakan, langkah itu menjadi bukti nyata komitmen Pertamina dalam mengimplementasikan Asta Cita swasembada energi.
"Integrasi bisnis hilir berlaku per 1 Februari 2026 ini bukan sekadar perubahan organisasi, melainkan upaya penguatan fondasi untuk menjadikan Pertamina sebagai soko guru bangsa dalam penyediaan energi,” ujarnya.
Baron mengatakan, dengan proses bisnis yang lebih efisien dan terintegrasi, Pertamina memastikan pelayanan energi kepada masyarakat Indonesia semakin optimal dan tangguh dalam menghadapi tantangan global.
Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Baca juga: Dugaan Minyak Rusia Masuk RI, Pertamina Tegaskan Impor Sesuai Aturan
Seluruh upaya tersebut sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha dan lingkungan, dengan menerapkan prinsip-prinsip environmental, social, and governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi.
Selain itu, Pertamina juga berkoordinasi dengan Danantara Indonesia dalam mendukung pelaksanaan program tersebut.