Pada ISF 2024, PGE Kenalkan Paradigma Baru Pengembangan Energi Panas Bumi

Kompas.com - 09/09/2024, 20:11 WIB
DWN,
A P Sari

Tim Redaksi

KOMPAS.com - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) sebagai perusahaan energi hijau kelas dunia terus mendorong pengembangan energi panas bumi untuk mendukung transisi energi Indonesia dan mencapai target Net Zero Emission (NZE) 2060.

Pada ajang Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2024, Kamis (5/9/2024), PGE memperkenalkan paradigma baru yang menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pemangku kepentingan untuk mempercepat pengembangan panas bumi sebagai tulang punggung transisi energi nasional.

Kolaborasi antarpemangku kepentingan menjadi salah satu pesan utama yang digaungkan di ISF 2024.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Menko Kemaritiman)  Luhut Binsar Pandjaitan, dalam sesi pleno menegaskan bahwa percepatan transisi energi memerlukan kerja kolektif yang melibatkan pemerintah, industri, hingga investor.

Baca juga: Pisau Bermata Dua bagi Industri Keuangan Bernama Teknologi AI

Menurutnya, masa depan transisi energi Indonesia akan sangat bergantung pada komitmen kolaboratif dari semua pihak.

Sejalan dengan visi tersebut, Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati menekankan bahwa panas bumi adalah solusi unggul untuk mendukung perjalanan Indonesia menuju energi bersih.

Sumber energi tersebut dianggap sebagai energi baseload yang stabil, menjadikannya prioritas untuk dioptimalkan melalui kolaborasi yang kuat antarpemangku kepentingan.

Baca juga: Pemangku Kepentingan Perlu Kolaborasi untuk Atasi Masalah Kesehatan akibat Konsumsi Tembakau

Perubahan paradigma

Untuk mencapai target tersebut, Dirut PGE Julfi Hadi menekankan perlunya perubahan paradigma dalam pengembangan energi panas bumi.

Menurutnya, diperlukan pendekatan baru untuk menjadikan investasi di sektor energi terbarukan lebih menarik dan efisien.

"Kita membutuhkan terobosan dalam enam hingga delapan tahun ke depan untuk mencapai kapasitas panas bumi nasional sebesar 7 gigawatt GW pada 2033," jelas Julfi dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (9/9/2024).

Perubahan paradigma dalam pengembangan energi panas bumi sangat krusial, terutama mengingat tarif listrik panas bumi saat ini.

Baca juga: Panas Bumi dan Air Berpotensi Jadi Sumber Energi Listrik Utama Nasional

Diperlukan pendekatan yang lebih efisien untuk meningkatkan profitabilitas bagi para pengembang independent power producers (IPP).

Paradigma baru yang ditawarkan PGE mencakup tiga strategi utama. Pertama, pengembangan bertahap.

Pengembangan wilayah kerja panas bumi secara bertahap untuk meminimalkan risiko dan mengoptimalkan biaya, dibandingkan dengan pengembangan besar-besaran yang sering kali menyebabkan lonjakan biaya.

Kedua, pengurangan biaya melalui teknologi. Menurunkan biaya per unit (USD per MW) dengan menggunakan teknologi baru serta meningkatkan skala operasi melalui kolaborasi antarpengembang, yang memungkinkan terbentuknya pasar yang lebih efisien.

Baca juga: Apresiasi Konsumen, Pengembang Swancity Tebar Promo hingga September 2024

Ketiga, diversifikasi bisnis. Memperluas bisnis di luar sektor kelistrikan, seperti pengembangan hidrogen hijau dan amonia hijau, serta mempromosikan manufaktur lokal untuk komponen utama pembangkit listrik panas bumi.

Julfi Hadi juga menyoroti pentingnya dukungan pemerintah, termasuk pemberian insentif seperti akses pinjaman lunak dan perdagangan kredit karbon internasional, serta dukungan untuk penguatan kandungan lokal dan infrastruktur.

Ia menegaskan bahwa pengembang panas bumi harus meninggalkan paradigma dan model bisnis lama yang masih menggunakan pendekatan "business as usual" dan kurang memanfaatkan kolaborasi, yang pada akhirnya hanya menghasilkan tingkat pengembalian (internal rate of return) yang minim.

“Diperlukan perkembangan dan kolaborasi yang lebih kuat antarpemangku kepentingan untuk memastikan bahwa energi panas bumi dapat berperan signifikan dalam mendorong transisi energi nasional,” imbuh Julfi.

Baca juga: Laporan Terbaru Citi Ungkap Investasi Transisi Energi Meningkat Pesat dari 2013-2023

Dengan sumber daya yang dimiliki, PGE optimistis mampu menjadi pemimpin dalam percepatan pengembangan panas bumi di Indonesia.

PGE saat ini mengelola 15 wilayah kerja panas bumi (WKP) dengan kapasitas terpasang 672 megawatt (MW), yang ditargetkan naik menjadi 1 GW dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Dengan potensi cadangan sebesar 3 GW dari 10 WKP yang dikelola sendiri, PGE berkomitmen untuk terus mengembangkan proyek-proyek baru.

“PGE sudah membuktikan komitmennya dalam mewujudkan paradigma baru. Kami telah melakukan banyak hal, termasuk berkolaborasi dalam eksplorasi sumber daya, mendorong pengembangan teknologi baru di Indonesia, dan mengembangkan manufaktur lokal. Selain itu, kami juga menginisiasi proyek percontohan hidrogen hijau di Ulubelu,” jelas Julfi Hadi.

Terkini Lainnya
Perkuat Ketahanan Energi, PIEP Kirim Minyak Mentah dari Aljazair ke Indonesia

Perkuat Ketahanan Energi, PIEP Kirim Minyak Mentah dari Aljazair ke Indonesia

Pertamina
Kapal Gamsunoro Berhasil Lintasi Selat Hormuz Berkat Sinergi Kemlu dan PIS

Kapal Gamsunoro Berhasil Lintasi Selat Hormuz Berkat Sinergi Kemlu dan PIS

Pertamina
Catat Kinerja Positif pada 2025, Pendapatan Pertamina Tembus Rp 1.167 Triliun

Catat Kinerja Positif pada 2025, Pendapatan Pertamina Tembus Rp 1.167 Triliun

Pertamina
Ini Juara Pertamina Mandalika Racing Series 2026 Rd 2, Pembalap Muda Menuju Panggung Dunia

Ini Juara Pertamina Mandalika Racing Series 2026 Rd 2, Pembalap Muda Menuju Panggung Dunia

Pertamina
Bangun SDM Unggul, Pertamina Gandeng Kemnaker Perkuat Kompetensi dan Budaya K3

Bangun SDM Unggul, Pertamina Gandeng Kemnaker Perkuat Kompetensi dan Budaya K3

Pertamina
Dukung Pelaku UMK di Jakarta Fair, Pertamina Salurkan Bright Gas ke Puluhan Pedagang Kuliner 

Dukung Pelaku UMK di Jakarta Fair, Pertamina Salurkan Bright Gas ke Puluhan Pedagang Kuliner 

Pertamina
Pertamina Mandalika International Circuit, Tempat Generasi Baru Pembalap Indonesia

Pertamina Mandalika International Circuit, Tempat Generasi Baru Pembalap Indonesia

Pertamina
Pertamina Mandalika Racing Series 2026 Round 2 Jadi Jalan Pembalap Muda Menuju Panggung Dunia

Pertamina Mandalika Racing Series 2026 Round 2 Jadi Jalan Pembalap Muda Menuju Panggung Dunia

Pertamina
Siapkan Pebalap Muda ke Level Internasional, Pertamina Mandalika Racing Series Putaran 2 Terapkan Regulasi Standar FIM

Siapkan Pebalap Muda ke Level Internasional, Pertamina Mandalika Racing Series Putaran 2 Terapkan Regulasi Standar FIM

Pertamina
Pertamina Peringkat Ketiga Fortune Southeast Asia 500, Perkuat Komitmen Jaga Ketahanan Energi

Pertamina Peringkat Ketiga Fortune Southeast Asia 500, Perkuat Komitmen Jaga Ketahanan Energi

Pertamina
Pertamina Berkah Santuni 17.300 Anak Yatim dan Dhuafa di Seluruh Indonesia

Pertamina Berkah Santuni 17.300 Anak Yatim dan Dhuafa di Seluruh Indonesia

Pertamina
Dari Minyak Jelantah hingga Limbah Makanan, Inovasi Perwira Pertamina Bawa Dampak Nyata di APQ Awards 2026

Dari Minyak Jelantah hingga Limbah Makanan, Inovasi Perwira Pertamina Bawa Dampak Nyata di APQ Awards 2026

Pertamina
Sudah ke Jakarta Fair? Yuk Dukung UMKM Lokal di Bright Store by Pertamina

Sudah ke Jakarta Fair? Yuk Dukung UMKM Lokal di Bright Store by Pertamina

Pertamina
Komisaris Utama Pertamina Tinjau Keandalan Pasokan Energi di Nusa Tenggara Timur

Komisaris Utama Pertamina Tinjau Keandalan Pasokan Energi di Nusa Tenggara Timur

Pertamina
Komut Pertamina Tinjau Kesiapan Pasokan Avtur di Bali Jelang Peningkatan Trafik Penerbangan

Komut Pertamina Tinjau Kesiapan Pasokan Avtur di Bali Jelang Peningkatan Trafik Penerbangan

Pertamina
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com