KOMPAS.com - Langit malam di pesisir Cilamaya tak selalu ramah bagi nelayan kecil. Di tengah gelapnya laut, seberkas cahaya sering kali menjadi penentu apakah jaring bisa ditebar dengan aman, perahu dapat bernavigasi tanpa risiko, dan hasil tangkapan cukup untuk dibawa pulang ke keluarga.
Bagi para nelayan, kegelapan menjadi tantangan harian yang melekat pada profesi mereka. Namun kini, kondisi itu perlahan berubah berkat hadirnya bantuan dari Pertamina New & Renewable Energy (NRE).
Melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL), Pertamina NRE menghadirkan penerangan berbasis pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) untuk membantu aktivitas nelayan saat melaut di malam hari.
Bantuan yang diberikan berupa paket penerangan PLTS portabel yang dipasang di kapal nelayan. Sistem ini terdiri dari panel surya yang ditempatkan di bagian atas perahu untuk menangkap sinar matahari saat siang hari, baterai penyimpanan energi, serta lampu penerangan yang dapat digunakan sepanjang malam.
Energi yang dikumpulkan pada siang hari disimpan dalam baterai, lalu dimanfaatkan sebagai sumber listrik untuk lampu di kapal saat nelayan melaut pada malam hari.
Bantuan sederhana ini menghadirkan sejumlah dampak nyata, mulai dari peningkatan produktivitas hingga penghematan biaya operasional.
Budiman, nelayan yang telah melaut sejak 2000 dan dikenal sebagai local hero Pertamina di desanya, merasakan langsung perubahan tersebut.
Dulu, ia hanya mengandalkan senter kepala saat melaut pada malam hari. Selain melelahkan, alat itu kerap bermasalah ketika terkena air.
“Sekarang penerangannya sangat terang dan konsisten dari malam sampai pagi. Dulu, karena pegal dan khawatir lampu mati, saya hanya bisa menabur jaring beberapa kali. Dengan PLTS, saya bisa sampai lima atau enam kali semalam. Penghasilan pun terasa bertambah,” ujar Budiman dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (18/2/2026).
Cerita serupa datang dari Kiki Mulyana, nelayan kecil yang telah 10 tahun melaut. Ia menuturkan, sebelumnya hanya mengandalkan aki sebagai sumber penerangan, yang kerap cepat drop ketika terkena air dan memerlukan biaya tambahan untuk penggantian.
“Dengan energi surya, kami jauh lebih hemat. Penerangannya luas, membantu memilih ikan, juga untuk navigasi supaya tidak terjadi kecelakaan, apalagi di jalur sungai yang sempit,” jelas Kiki.
Saat di darat pun, lanjut dia, penerangan PLTS dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki jaring karena mudah dibongkar pasang. Hal ini sangat membantu nelayan secara ekonomi sekaligus dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
Bagi nelayan di wilayah yang masih minim penerangan, kehadiran PLTS tak hanya mendukung pekerjaan di laut, tetapi juga meringankan beban pengeluaran rumah tangga. Energi surya menjadi solusi yang andal sekaligus ramah lingkungan.
Pejabat Sementara (Pjs) Corporate Secretary Pertamina NRE Rizki Vistiari menegaskan bahwa bantuan PLTS portabel dirancang untuk memberi manfaat langsung bagi masyarakat pesisir.
“Kami percaya transisi energi harus menghadirkan dampak nyata di tingkat tapak. Melalui pemanfaatan energi surya, kami ingin membantu nelayan meningkatkan keselamatan, produktivitas, dan kesejahteraan. Inilah wujud komitmen Pertamina NRE untuk tumbuh bersama masyarakat,” ungkapnya.